Travelling to India (Delhi + Agra)

Tuesday, March 26th, 2019 - India
Advertisement
advertisement

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 7-10 Maret 2019, saya melakukan travelling ke India (Delhi & Agra) + 9 hours layover in Bangkok (11 Maret 2019), berbekal tiket promo codeshare Jet Airways & Garuda Indonesia yang saya beli via mytrip.com tahun lalu seharga Rp.1,6 juta pp. Karena ini tiket promo dan kebetulan Jet Airways saat ini juga sedang mengalami krisis finansial, flight travel itinerary saya sempat beberapa kali mengalami re-schedule dari pihak Jet Airways, tapi akhirnya problem solved, setelah saya berkomunikasi dengan Jet Airways Indonesia dan mendapatkan e-ticket yang baru, dan saya pun juga melakukan web-check-in terlebih dahulu sebelum keberangkatan untuk memastikan kebagian seat (tidak overbooked) sekaligus memilih seat (sengaja milih seat di dekat jendela).

Jujur saja, meskipun saya terbiasa melakukan solo travelling keluar negeri (LN), saya agak ragu-ragu saat memutuskan berkunjung ke India. Mayoritas negara yang pernah saya kunjungi sebelumnya cenderung modern, rapi, bersih & teratur dengan moda transportasi umum (MRT, Bus, etc) dan fasilitas umum lainnya yang cukup sistematis. Saya tidak terbiasa melakukan tawar menawar harga dengan tuk-tuk / rickshaw driver (yang seringkali menaikkan harga seenaknya dan cukup hustle membujuk kita untuk ikut mereka mesikpun berulangkali sudah kita tolak), belum lagi banyaknya scam di India, ribetnya membeli tiket kereta antar kota, dan beberapa image tidak menyenangkan mengenai India. Meskipun perjalanan kali ini cukup singkat, saya meluangkan waktu yang cukup banyak untuk membaca beberapa postingan di group BI, artikel tentang India di mbah google maupun menonton travel vlogs di youtube dalam mempersiapkan itinerary perjalanan saya agar tidak mengalami culture shock ketika berada disana.

Ada beberapa tips yang perlu diperhatikan :

Simcard/Internet

Jika tidak ingin ribet, sebaiknya menggunakan paket roaming internet dari Indonesia. Karena XL pass sudah tidak ada kerjasama lagi dengan provider di India, pilihannya jatuh ke Telkomsel & Indosat, saat itu saya memutuskan menggunakan roaming Indosat (saya pengguna provider Indosat & XL), tapi ternyata roaming Indosat (kerjasama dengan provider Vodafone) sinyal internet-nya kurang begitu bagus di Delhi demikian juga saat di Agra. Teman 1 hotel saya yang menggunakan roaming Telkomsel (kerjasama dengan provider Airtel) koneksi internet-nya lancar jaya (kecuali saat memasuki wilayah Agra). 
Free WIFI lumayan jarang ditemukan disana. Jika ingin membeli simcard local, sebaiknya membelinya di Airport, seharga INR 800 (IDR 160 rb), hanya saja proses aktivasi-nya cukup lama. Saya beli di Airport jam 6 sore, baru dapat sinyal sekitar jam 12 malam, dan internetnya baru aktif jam 4 pagi. Kalau beli di Counter-nya Airtel di kota, bisa dapat harga lebih murah INR 300 (Rp.60rb), tapi proses-nya lebih ribet, harus menyediakan fotokopi paspor, pas photo, dll.

Moda Transportasi

Selama di Delhi, saya hanya menggunakan Delhi Metro yang dikombinasikan dengan jalan kaki. Delhi Metro cukup modern (hampir sama seperti MRT di Singapore ataupun MTR di HongKong). Terdapat 9 jalur Delhi Metro (termasuk diantaranya Airport Express) yang menjangkau hampir sebagian besar wilayah Delhi. Delhi Metro Pass dapat dibeli di Delhi Airport, ada beberapa pilihan harga INR 150 (INR 100 saldo + INR 50 deposit), INR 350 (INR 300 saldo + INR 50 deposit), INR 550 (INR 500 + INR 50 deposit). Sebaiknya beli yang harga INR 350, jika saldo kurang masih bisa di-top-up di setiap stasiun metro (NB : sisa saldo is not-refundable, hanya deposit yang bisa di-refund). Kemarin saya beli yang seharga INR 550 dan sisa saldo masih sekitar INR 100 (padahal hampir tiap hari saya keliling Delhi pakai Metro). Beberapa lokasi wisata popular di Delhi berada lumayan dekat (sekitar 5-20 menit berjalan kaki) dari stasiun Metro terdekat. 
Jika kebetulan travelling dengan group kecil, naik tuktuk (auto rickshaw) bisa dijadikan alternative, meskipun umumnya hampir semua driver buka harga diatas INR 100, tapi biasanya bisa ditawar sampai INR 50-80 tergantung jarak. Bisa juga menggunakan aplikasi OLA semacam Gojek untuk tuk-tuk, kalo tidak ingin tawar-menawar harga dengan driver tuk-tuk, teman 1 hostel saya lumayan sering menggunakannya. Keuntungan menggunakan tuk-tuk adalah bisa diantar sampai lokasi tujuan, kerugiannya, polusi udara di Delhi lumayan buruk belum lagi suara bising dari klakson mobil/motor/tuk-tuk di sepanjang jalan di Delhi.
Untuk perjalanan ke Agra, karena saya tidak mau ribet untuk membeli tiket kereta (kebetulan waktu itu sebagian besar kereta sudah fully booked), saya memilih menggunakan jasa “One Day Tour to Taj Mahal & Agra Fort from Delhi” via Klook (patungan berdua dengan teman 1 hostel saya, masing2 kena IDR 600rb, kalau mau lebih murah, ada paketan untuk bertiga, berempat ataupun berlima).

Penginapan

Sebagian besar backpacker memilih menginap di daerah Paharganj, Old Delhi yang lokasinya lumayan dekat dengan New Delhi Metro Station maupun New Delhi Train Station (terutama jika ingin naik kereta ke kota lain). Tapi, daerah Old Delhi termasuk daerah yang kumuh, dan lumayan banyak touts maupun scammers di daerah tersebut terutama di stasiun keretanya. Saya pribadi lebih menyarankan untuk menginap di daerah New Delhi ataupun South Delhi yang lebih bersih dan teratur.
Selama di Delhi, saya menginap di Moustache Hostel Delhi (seharga IDR 100rb/malam via Booking.com), yang terletak di wilayah South Delhi, sekitar 10-15 menit jalan kaki dari Metro Stasiun Sukhdev Vihar. Hostel tersebut cukup recommended menurut saya, review-nya juga cukup bagus. Selama menginap disana, para tamunya seringkali berkumpul di lobby hostel untuk sekedar ngobrol dan bercerita satu sama lain. Selain itu, dari pihak hostel-nya sendiri setiap malam selalu ada tema buat jalan keluar bareng pengunjung hostel (bagi yang mau ikut), sewaktu malam pertama ada acara jalan ke klub malam, malam kedua nonton bioskop bareng (film Hollywood), dan sebagainya.

Berikut itinerary & cerita perjalanan saya :

DAY 1

Flight from Jakarta to Singapore menggunakan Garuda Indonesia (langsung dapat 2 boarding pass sewaktu check-in di Jakarta). Sampai Changi Airport T3, ada waktu 5 hours layover sebelum flight lanjutan ke Delhi, saya menyempatkan diri ke Butterfly Garden di T3, kemudian memilih istirahat/tidur di transit area. Flight from Singapore to Delhi menggunakan Jet Airways. Kesan menggunakan Jet Airways, pesawatnya jadul dan seperti kurang terawat, IFE-nya juga tidak dinyalakan, ada fasilitas jetscreen untuk fasilitas entertainment yang bisa diakses menggunakan gadget kita, tapi sayangnya pilihan hiburannya juga terbatas. Dapat makanan dengan cita rasa masakan India, sayangnya kurang cocok di lidah saya. Beda sekali dengan sewaktu naik Garuda Indonesia di flight sebelumnya.

Sampai di Indira Gandhi International Airport sekitar pukul 17.45, sore itu antrian imigrasi tidak begitu panjang, selanjutnya saya pun menukarkan uang USD 150 ke money changer (waktu itu dihargai INR 9750). Sewaktu di Delhi Airport, saya baru menyadari jika paket roaming indosat saya agak lemah sinyal internet, saya pun memutuskan untuk membeli simcard local Airtel seharga INR 800 (IDR 160 rb) buat dipakai di hp saya yang satunya, sayangnya simcard airtel tersebut ngga bisa langsung aktif saat itu juga.

Selanjutnya saya bergegas ke Airport Express Station untuk membeli Delhi Metro Pass seharga INR 550 (IDR 110rb). Perjalanan dari Airport ke Delhi Metro Station sekitar 30 menit, kena charge INR 44 (IDR 8.800), kemudian transfer ke Yellow Line menuju ke Hauz Khas Metro Station, lalu pindah ke Magenta Line menuju Sukhdev Vihar Metro Station, kena charge INR 46 (IDR 9.200) untuk perjalanan sekitar 45 menit. Sampai di Sukhdev Vihar, saya masih terkendala dengan koneksi internet di HP saya, beruntung waktu itu saya tidak sendirian, ada travelmate (member BI juga, mbak Ferry Sorayanty) yang kebetulan 1 hostel sama saya dan menggunakan paket roaming telkomsel yang koneksi internetnya lancar jaya, sehingga kami bisa menggunakan aplikasi google map untuk menuju hostel tempat kami menginap (kurang lebih 15 menit berjalan kaki), sampai di hostel sekitar jam 8 malam.

Saya booking penginapan via booking.com (pay at hostel), kena charge INR 500 (IDR 100rb) per malam untuk type 6-bed mixed dormitory di Moustache Hostel Delhi. Sewaktu check-in saya diberitahu receptionist hostel kalau tiap malam selalu ada tema buat hangout bareng buat tamu hostel (bagi yang mau gabung). Untuk tema malam itu, hangout di salah satu klub malam di Delhi (ada sekitar 15 orang yang bergabung), kebetulan saat itu saya merasa capek karena kurang tidur (malam sebelumnya menginap di Soetta Airport) jadi memutuskan untuk tidak ikut, sedangkan travelmate saya, mbak Ferry Sorayanty ikutan acara tersebut.

DAY 2

Pagi harinya, tidak seperti biasanya hari itu saya agak malas buat jalan keluar pagi-pagi, baru memutuskan keluar hostel jam 10 pagi. Hari itu saya hanya jalan-jalan keliling ke lokasi wisata yang gratisan saja, dan untuk perjalanan kali ini saya memutuskan untuk solo travelling saja.

Tujuan pertama saya adalah Lotus Temple, dari Sukhdev Vihar Metro Station, hanya beda 1 stasiun saja (kurang lebih 5-10 menit perjalanan naik Magenta Line), tepatnya turun di Okhla N.S.I.C. Metro Station, dari sana berjalan kaki sekitar 5 menit menuju entrance gate Lotus Temple (free entrance). Lotus Temple sendiri merupakan tempat untuk berdoa (apapun agamanya, dipersilahkan untuk berdoa disana), dengan design arsitektur bangunan cukup unik. Meskipun tidak terlalu special, tapi cukup worth it untuk dikunjungi (gratis soalnya, he7x).

Lokasi wisata selanjutnya adalah Lodhi Garden, stasiun metro terdekat ke Lodhi Garden bisa diakses melalui JLN Stadium Metro Station atau Khan Market Metro Station di Violet Line. Untuk menuju kesana, dari Okhla N.S.I.C. Metro Station, naik Magenta Line menuju ke Kalkaji Mandir Metro Station, kemudian transfer ke Violet Line, dan turun ke JLN Station Metro Station. Karena lapar belum sempat sarapan, saya menyempatkan beli chicken burger (INR 50 / IDR 10rb) & pepsi cola botol kecil (INR 20 / IDR 4rb) di salah satu street vendor di dekat station, hmm, harganya cukup murah pikirku. Lalu, sayaberjalan kaki sekitar 15-20 menit menuju Lodhi Garden.

Kompleks Lodhi Garden cukup luas, meliputi bangunan peninggalan sejarah yang dibangun sewaktu zaman kekuasaan Lodi, diantaranya Mohammed Shah’s Tomb, Tomb of Sikandar Lodi, Shisha Gumbad and Bara Gumbad, terdapat pula taman, area bermain, kolam air mancur, dan sebagainya, cocok bagi yang ingin rileks di taman maupun yang ingin foto-foto peninggalan sejarah disana dan sangat worth it buat dikunjungi bagi pecinta wisata gratisan, he7x.

Setelah puas keliling Lodhi Garden, saya melanjutkan perjalanan ke Khan Market dengan berjalan kaki sekitar 10-15 menit. Daerah Khan Market sendiri merupakan shopping area yang cukup popular di Delhi. Banyak juga tourist yang mengunjungi area tersebut, mungkin karena terletak di wilayah New Delhi, yang lebih rapi, bersih & teratur daerahnya dibandingkan shopping market lainnya di wilayah Old Delhi misalnya.

Lalu, saya naik metro violet line dari Khan Market Metro Station menuju Central Secretariat Metro Station. Ada 2 lokasi wisata gratis yang letaknya tidak terlalu jauh dari Central Secretariat, yaitu Mughal Garden & India Gate (hanya saja kedua lokasi wisata tersebut letaknya berlawanan arah). Jika kuat berjalan kaki, Mughal Garden bisa ditempuh sekitar 25 menit jalan kaki, sedangkan India Gate sekitar 15-20 menit jalan kaki. Alternative lainnya, bisa naik tuk-tuk dengan tarif sekitar INR 50 (IDR 10 rb).

Untuk tahun ini Mughal Garden Delhi hanya dibuka untuk umum di bulan februari-maret, tidak tau kapan akan dibuka untuk umum lagi. Berbeda dengan Lodhi Garden yang terlihat kuno (karena pada dasarnya bangunan untuk makam yang dikelilingi oleh taman) dan agak kurang terawat, Mughal Garden tampak lebih cantik dan modern.

India Gate langsung dapat terlihat dari kejauhan dari Central Secretariat, di samping kiri jalan dari Central Secretariat menuju India Gate terdapat kolam yang terdapat perahu sepeda bebek dan area terbuka hijau, banyak warga local yang berkumpul, bermain dan bersantai ria dengan keluarganya disana. India Gate sendiri cukup ramai dipadati oleh pengunjung baik itu turis local maupun mancanegara, dan agak susah untuk mendapatkan foto yang bagus dengan background yang tidak terlalu banyak orangnya.

Setelah puas-puas foto-foto di depan India Gate, saya melanjutkan perjalanan ke Agrasen Ki Baoli. Untuk menuju kesana dari India Gate bisa naik tuk-tuk atau bisa juga berjalan kaki sekitar 20-25 menit. Seperti biasa, saya selalu memilih untuk berjalan kaki (maklum sobat misqueen) karena ingin melihat lebih dekat suasana lingkungan di sepanjang jalan yang saya lalui. Agrasen Ki Baoli merupakan monument bersejarah yang dibangun di masa King Agrasen. Lokasi ini merupakan salah satu lokasi instagramable yang cukup popular di Delhi, terkenal karena design-nya yang kuno dan unik dan dipercaya sebagai most haunted place in Delhi. Tapi, sayangnya tidak banyak yang bisa dilakukan di lokasi tersebut.

Dari Agrasen Ki Baoli, saya berjalan kaki kurang lebih 15 menit menuju Janpath Metro Station (Violet Line). Tadinya saya kepikiran mau melanjutkan perjalanan ke Lal Quila Metro Station untuk mengunjungi Red Fort & Jama Masjid yang letaknya hanya sekitar 5-10 menit jalan kaki dari station tersebut. Tapi, karena saat itu hari sudah sore dan Red Fort hanya buka sampai pukul 16.30, saya pun mengurungkan niat saya dan memilih kembali ke hostel dengan menggunakan Metro.

Di sepanjang perjalanan dari Sukhdev Vihar Station menuju hostel, saya sempatkan mampir di salah satu market yang letaknya hanya 5 menit jalan kaki dari hostel dan makan McD (dengan menu Chicken Burger, French Fries + Soft Drink seharga INR 210 / IDR 42rb) disana.

Malam hari-nya saya berkumpul sambil bercerita di lobby dengan tamu-tamu hostel lainnya. Mbak Ferry cerita mengenai pengalamannya jalan-jalan keliling Delhi siang hari itu dan juga sewaktu jalan ke klub malam sebelumnya. Malam itu saya kenalan dengan salah satu WNI yang kebetulan member BI juga, Mas Imron Zulfikar, yang sudah hampir 2 bulan keliling India dan cerita-cerita mengenai pengalaman dia selama di India maupun pengalaman travelling-nya ke berbagai Negara lain. Ada juga cewek bule WN Brazil (keturunan jepang) dan WN India dari wilayah selatan yang berkumpul bareng kami dan cerita soal pengalaman mereka.

Sebenarnya malam itu di hostel lagi ada tema buat nonton bioskop bareng, beberapa tamu hostel ada rencanan nobar “Captain Marvel”, sayangnya besok paginya saya ada one day trip ke Agra, jadi memilih untuk beristirahat di hostel saja.

DAY 3

Malam sebelumnya saya tidak bisa tidur nyenyak, hanya merebahkan badan untuk istirahat saja (karena takut tidurnya keterusan sampai pagi). Jam 2.45 pagi saya sudah siap-siap di lobby hostel menunggu driver dari “Le Passage Bureu Delhi” (Agen Tour dari Klook) yang akan menjemput kami (saya dan mbak Ferry Sorayanty) jam 3 pagi di depan hostel. Tapi, pagi itu sempat diwarnai sedikit drama dimana salah satu dompetnya mbak Ferry (yang berisi ID cards, ATM & CC) hilang (lupa naruhnya) dan masih belum ketemu sepanjang perjalanan kami ke Agra, padahal rencananya dia mau langsung checkout karena ada flight ke Bangkok malam harinya. Beruntung Paspor dan dompetnya yang berisi rupee masih ada.

Perjalanan Delhi ke Agra ditempuh dengan mobil dalam waktu kurang lebih 2,5 – 3 jam, sampai di Agra sekitar jam 6 kurang sedikit. Selama di Agra kami ditemani seorang tour guide (baru gabung dengan kita setelah sampai Agra). Taj Mahal menjadi tujuan pertama kami waktu itu. Antrian pembelian tiket maupun masuk ke entrance gate sudah cukup ramai walaupun hari masih pagi (dan akan semakin ramai menjelang siang hari). Harga tiket masuk Taj Mahal sebesar INR 1100 (IDR 220rb)/orang dan ada tambahan INR 200 (IDR 40rb) jika ingin memasuki area Moselum utamanya (dimana lokasi makam Shah Jahan & istrinya berada). Kami memutuskan mengambil paket pertama saja Adanya tour guide sangatlah membantu, ada jalur khusus pembelian tiket untuk tour guide, sehingga tidak perlu mengantri untuk beli tiket. Demikian pula saat memasuki entrance gate ke area Taj Mahal, kami bisa melewati jalur khusus local tourist yang lumayan sepi (seharusnya lewat foreign tourist line). Tourist guide kami cukup detail dalam menjelaskan sejarah & area bangunan Taj Mahal itu sendiri, selain itu juga beliau juga lumayan tau lokasi/spot strategis untuk mengambil foto yang bagus. Meskipun harga tiket masuk cukup mahal, tapi sangat lah worth it (bagi penyuka sejarah & arsitektur bangunan kuno) mengingat bangunan Taj Mahal sendiri sangat lah indah dan megah, dibangun oleh Shah Jahan semasa Mughal Dinasty sebagai monument untuk memperingati mendiang istrinya. Hari itu banyak sekali dijumpai turis WNI yang berkunjung kesana. Beruntung untuk Agra trip kali ini saya tidak sedang solo travelling, setidaknya ada Mbak Ferry & Tour Guide kami yang memberikan jasanya sebagai photographer saya, he7x. Kurang lebih kami berada di area Taj Mahal selama 3 jam lamanya.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Agra Fort dengan mobil yang ditempuh dalam waktu 5-10 menit (lokasi kedua tempat wisata itu cukup berdekatan). Saya dan mbak Ferry sepakat buat skip breakfast time dan langsung ke Agra Fort. Sepertinya mbak Ferry lumayan panik karena dompetnya belum ketemu dan uang rupee yang dia pegang juga sudah menipis, jadi ingin segera pulang ke Delhi, Tarif masuk Agra Fort sebesar INR 600 (IDR 120 rb) jika kita pegang tiket Taj Mahal (ada diskon INR 50, dari tarif normal yang seharusnya INR 650 / IDR 130rb). Habis bayar tiket Agra Fort tadi, gantian saya yang merasa janggal dengan isi dompet saya, setelah saya hitung-hitung semua pengeluaraan saya sejak datang ke Delhi hingga hari itu, uang saya koq ada yang berkurang sebesar INR 2000 (IDR 400rb), uang yang cukup lumayan banyak (tadinya rencana mau dipakai untuk mengunjungi Red Fort & Qutub Minar keesokan harinya), sepertinya saya tidak sengaja menghilangkannya (mungkin lupa naruh / tidak sengaja menjatuhkannya). Jadi ikutan galau karenanya, uang saya pegang tinggal sisa INR 1500 (IDR 300rb), hiks7x. Agra Fort sendiri cukup besar dan megah. Bangunan tersebut dibangun di masa Mughal Dinasty terdiri dari istana tempat tinggal raja (Akbar & istri-istrinya, mungkin yang dulu pernah nonton serial “Jodha Akbar” akan familiar dengannya), kantor pemerintahan sekaligus benteng pertahanan dari musuh. Kami berada di Agra Fort kurang-lebih 2 jam lamanya.

Setelah itu kami memutuskan untuk skip lunch dan langsung pulang ke hostel kami di Delhi karena Mbak Ferry ingin mengecek kembali kamar hostelnya apakah dompetnya tertinggal disana dan berencana ke kantor polisi untuk bikin laporan (untuk keperluan klaim asuransi jika diperlukan). Kami pun memberikan tip secukupnya kepada tour guide dan driver kami.

Sesampainya di hostel, setelah dilakukan pengecekan kembali, ternyata dompetnya mbak Ferry tidak hilang, tapi terselip di dalam baju-baju kotor di dalam tasnya. Dia pun bisa check-out dari hostel dan pergi ke Airport dengan tenang. Saya pun kembali ke kamar untuk mengecek isi tas saya, tapi uang saya sebesar INR 2000 tetap tidak ketemu.

Karena saat itu masih jam 3 sore, saya pun memilih untuk jalan-jalan keliling Delhi lagi, segaja cari yang gratisan. Dari Sukhdev Vihar Metro Station naik Magenta Line menuju kearah Hauz Khas Metro Station, akan melewati Greater Kailash. Greater Kailash merupakan area yang cukup popular di Delhi karena banyak club & market disana, tempat para tourist biasa hangout di malam hari. Selanjutnya akan melewati Hauz khas complex yang bisa diakses melalui Hauz Khas Metro Station (station transit antara Magenta Line dengan Yellow Line) ataupun Green Park Metro Station (Yellow Line) dan dilanjutkan jalan kaki sekitar 15 menit. Hauz Khas Complex merupakan salah satu lokasi peninggalan sejarah, disana terdapat tomb, pavilions dan kolam/danau. Perjalanan kemudian saya lanjutkan ke Central Secretariat Metro Station, lalu transfer ke Violet Line menuju ke Nehru Place Metro Station. Nehru Place merupakan kawasan SCBD di Delhi.

Karena hari sudah sore saya memutuskan kembali ke hostel, malam harinya saya bertemu dan ngobrol dengan Mas Imron Zulfikar. Kebetulan beliau habis jalan-jalan dengan seorang WN Iran, Mr.Abdullah, pria separuh baya yang habis liburan ke Nepal sebelum melanjutkan perjalanan ke Delhi. Kita pun sepakat untuk jalan-jalan keliling Delhi keesokan harinya.

DAY 4

Keesokan harinya, kami (saya, mas Imron & Mr.Abdullah) baru jalan keluar hostel sekitar jam 11 siang. Tujuan pertama kami adalah Qutub Minar. Dari Sukhdev Vihar Metro Station naik Magenta Line menuju Hauz Khas Metro Station, lalu transfer ke Yellow Line menuju ke Qutub Minar Metro Station. Bangunan Qutub Minar dapat ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 20 menit dari Qutub Minar Metro Station. Di sekitar ¾ perjalanan, kami sempat tertarik dengan sebuah bangunan tomb di pinggir jalan, karena kebetulan lokasinya agak tinggi (diatas bukit kecil) dan terlihat ada orang yang memanjat kesana. Karena tujuan utama kami ke Qutub Minar, kami pun melewatkannya.

Sesampainya di Qutub Minar, saat itu sekitar jam 12.30 siang, antrian pembelian tiket masuk cukup panjang, demikian juga antrian memasuki entrance gate-nya, mungkin akan membutuhkan waktu 1 jam lebih sendiri hanya untuk antre beli tiket & memasuki Qutub Minar. Setelah berdiskusi dengan mas Imron & Mr.Abdullah, akhirnya kami membatalkan niat kami, dan memilih pergi ke Azim Khan Tomb yang sempat kami lihat sebelumnya. Kebetulan uang saya juga sudah tipis sebenarnya, tinggal INR 1100 (IDR 220rb)

Pintu masuk menuju Azim Khan Tomb sendiri cukup tersembunyi, perlu bantuan google map untuk menuju kesana, free entrance, hanya ada 1 security yang berjaga. Azim Khan merupakan salah satu jenderal di jaman Mughal Dinasty. Bangunan Azim Khan Tomb sendiri tidak terlalu istimewa, bentuknya hampir mirip tomb di Lodhi Garden, tapi lokasinya cukup unik karena berada diatas bukit kecil. Di dalamnya terdapat sebuah tangga untuk naik ke bagian atas bangunan tersebut, tapi sayangnya terkunci (ditutup untuk umum). Kami pun me-lobby security-nya agar dapat diijinkan naik keatas, dan akhirnya kami diperbolehkan naik. Dari atas bangunan Azim Khan Tomb, kita dapat melihat Qutub Minar dengan cukup jelas (meskipun dari kejauhan), lumayan dapat pemandangan gratisan pikirku.

Setelah itu, kami kembali ke Qutub Minar Metro Station, dan melanjutkan perjalanan ke Akshardham Temple, naik Yellow Line menuju ke Rajiv Chowk Metro Station, lalu transfer ke Blue Line ke Akshardham Metro Station. Jika ingin mampir ke Jantar Mantar (tiket masuk INR 200 / IDR 300rb) bisa turun di Patel Chowk Metro Station (1 stasiun sebelum Rajiv Chowk Metro Station).

Akshardham Temple terlihat cukup jelas dari Akshardham Metro Station, dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 5 menit. Akhshardham Temple merupakan salah satu hindu temple terbesar & termegah di Delhi, dan lumayan ramai pengunjungnya (terutama warga local). Tiket masuk ke complex-nya gratis (jika ingin nonton exhibition akan kena charge INR 170 / IDR 34rb, sedangkan untuk musical fountain kena charge INR 30 / IDR 6rb).. Akan lebih baik untuk berkunjung di malam hari dimana temple ini terlihat cantik dengan water show-nya. Menurut saya, sangat worth it untuk dikunjungi, meskipun sayangnya ada pelarangan penggunaan HP, camera & alat videography selama berada di dalam temple (ada tempat penitipan barang).

Karena saat itu sudah jam 4 sore & malamnya ada flight ke Bangkok, saya pamit pulang duluan ke mas Imron & Mr.Abdullah, dan langsung kembali ke hostel. Setelah checkout dari hostel, saya langsung bergegas ke Airport. Sampai di Airport, saldo delhi metro card saya masih sisa INR 100, sayangnya tidak bisa di-refund, dan kalaupun refund uang depositnya, hanya akan kembali INR 30 (IDR 6rb saja). Kata petugasnya, kartunya sebaiknya disimpan saja karena berlaku selama 10 tahun. Sisa uang rupee saya, sengaja saya habiskan untuk beli makan malam dan beli oleh-oleh cokelat.

Sewaktu di Delhi Airport, sempat berbincang-bincang dengan rombongan ibu-ibu WNI yang habis pulang dari Kashmir, saat beliau memperlihatkan foto-foto mereka bermain salju di Kashmir, jadi merasa iri rasanya. Sayangnya, saya memang termasuk golongan fakir cuti, ngga bisa lama-lama travelling di India. Maybe, next time pikirku.

DAY 5

Malam itu saya ada flight dari Delhi ke Bangkok menggunakan Jet Airways, sampai di Suvarnabhumi Airport sekitar jam 5.30 pagi. Karena kebetulan transitnya cukup lama, dan sudah pegang boarding pass Garuda Indonesia-nya untuk flight ke Jakarta pukul 14.10, saya putuskan untuk keluar imigrasi agar bisa jalan-jalan ke kota Bangkok. Lalu saya tukarkan uang USD 50 ke money changer di bandara, dan dapat sekitar THB 1500. Sewaktu di imigrasi, saya tertahan cukup lama sekitar 10-15 menit, karena e-passport saya agak susah terdeteksi oleh mesin scanner di petugas imigrasinya.

Dari Suvarnabhumi Airport, saya membeli tiket Airport Rail Link (ARL) menuju Ratchaprarop Station sebesar THB 44, dengan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit. Kemudian saya berjalan kaki sekitar 5 menit menuju Pratunam Market dan keliling area tersebut, setelah itu saya berjalan kaki melewati Platinum Mall & Big C Supercenter Bangkok di daerah Pratunam, karena hari masih pagi, kedua mall tersebut belum buka. Lalu saya lanjutkan perjalanan saya menuju Chit Lom & Siam dengan berjalan kaki sambil menikmati suasana pagi hari di kota Bangkok. Sungguh kangen sekali rasanya dengan kota ini, kali terakhir ke Bangkok sudah sekitar 8 bulan yang lalu.

Waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi, saya pun kembali ke Big C (dengan berjalan kaki) untuk belanja oleh-oleh, terus lanjut ke Ratchaprarop Station dan kembali ke Suvarnabhumi Airport dengan menggunakan ARL, sampai di Airport jam 11 siang. Antrian imigrasi (dan juga security check sebelum masuk area imigrasi) siang hari itu cukup panjang. Dan hingga akhirnya flight Garuda Indonesia membawaku terbang ke Jakarta.

Kesan terhadap perjalanan selama di India :

1. Orang-orang lokal WN India yang saya temui umumnya baik dan aman-aman saja travelling disana terutama di daerah New Delhi & South Delhi.
2. Warga lokal gemar sekali membunyikan klakson baik itu pengemudi mobil, tuk-tuk maupun pengendara motor. 
3. Pengemudi tuk-tuk, rickshaw maupun penjual jasa/makanan cukup hustle dalam menawarkan jasa-nya, terutama di daerah wisata.
4. Beberapa lokasi di Delhi terlihat kumuh, kotor & bau, tapi suasananya tidak terlalu jauh berbeda dengan kawasan kumuh di Jakarta.
5. Delhi Metro sangat modern, murah serta mempunyai cakupan area yang luas (terdapat 9 lines) dan dapat diandalkan untuk keliling kota Delhi. Untuk transportasi massal satu ini, saya akui Jakarta masih kalah dari Delhi.
6. Bagi turis yang menyukai bangunan bersejarah, kota Delhi & Agra cukup worth it untuk dikunjungi, meskipun terkadang tarif tiket masuk bagi foreigner dirasa cukup mahal..

Pictures gallery of Travelling to India (Delhi + Agra)

  • w4
Advertisement
advertisement
Travelling to India (Delhi + Agra) | Backpacker | 4.5