HOW TO BE A SOLOTRAVELLER?

Friday, March 29th, 2019 - Uncategorized
Advertisement
advertisement

Menjadi Solotraveller dengan intensitas traveling yang lumayan “padat”, pasti mengundang beberapa komentar. But at least, kini saya bisa mengelompokan komentar-komentar tersebut menjadi dua macam type komentator.

“Kok jalan-jalan terus? Sendirian? Ga kerja? Duitnya kok banyak banget? Cutinya gimana? Jangan lupa oleh-oleh!”

Komentar ini pasti datang dari mereka yang mengcover rasa iri nya hanya dengan sekedar bertanya, sudah pasti mereka tak akan beranjak dari tempatnya sekarang dan bakal hanya menjadi peminat/penonton. Selamanya!

Sangat jauh berbeda dengan komentator yang lain.

“Wah! Bagi itinerarynya dong! Kesana budget berapa? Semoga sehat terus ya selama trip! Kapan nih open trip?”

Percaya ndak? Masa depan anda untuk menjadi traveller dan menginjak tanah yang saat ini saya injak, tinggal sejengkal untuk melangkah. Rasa optimisme anda akan membawa anda merasakan! Dan tidak hanya berangan-angan.

Realitasnya adalah, anda adalah manusia yang sama dengan saya, kalau saya bisa kenapa anda tidak bisa? That’s the first faith!
Nah sekarang “iman tanpa perbuatan bukankah mati?” ya harus dilaksanakan! Solo traveller itu dibekali bakat yang mampu melihat “destinasi” secara menyeluruh, mulai dari kecerdasan melihat peta, pengetahuan mengenai negara yang dituju, rasa percaya diri, kemampuan mengelola diri sendiri, awareness, matematika menghitung budget, dan senyum yang indah untuk semua orang 🙂

“Saya gak bisa bahasa inggris!” Believe me! Saya pun kacau dalam berbahasa Inggris, yang saya gunakan hanya beberapa kosakata “how much is it?”, “where is the toilet?”, dan selebihnya adalah bahasa “binatang” dengan gerak tubuh yang diawali dengan senyuman, senyum itu melelehkan segala sesuatu! Jangan pernah kuatir soal bahasa! Dan jangan jadikan ketidakmampuan bahasa selalu jadi momok dan kambing hitam yang membuat anda terus menerus menunda traveling anda! Sangat tidak adil bagi kambing tersebut! :p

Awali niat anda dengan memilih negara mana yang akan dituju, sambil memandangi passport anda, “kok kosong terus ya? Harus diisi nih”. Saya pertama kali travelling adalah ke Singapore, Negara ini adalah destinasi terbaik bagi pemula, dengan transportasi yang mudah dan kota yang sangat bersih. Memompa anda untuk sesegera mungkin “menjajal” keberuntungan di negara yang lain.

Pilih negaranya! Sebaiknya yang bebas visa sehingga jadwal dan kelengkapannya tidak terlalu membebani anda. Lalu, amati transportasi di negara tersebut, jika memiliki subway segera instal aplikasi subway di negara tersebut, banyak sekali aplikasi yang bisa didownload baik dari Android atau Iphone.

Dengan memiliki peta transportasi, anda bisa memilih akomodasi yang sekiranya dekat dengan stasiun atau terminal. Pilihlah hotel yang dekat dengan stasiun dan strategis dengan kuliner. Butuh tidur nyenyak bukan berarti anda tidak makan bukan? Lalu, sering-sering buka blog dan search mengenai destinasi di negara tersebut serta bagaimana menuju destinasi tersebut. Dari peta yang anda lihat, anda bisa mulai menyusun perjalanan anda, dari yang terdekat, termudah rutenya, termurah, dan mana yang paling instagramable untuk mengabadikan kenangan anda 🙂

Kenapa tiket belakangan? Tidak semua negara bagus dikunjungi di tiap musim. Seperti saya, memilih ke Korea saat musim gugur (autumn) karena pada musim itu warna pepohonan begitu cantik dan Korea jagonya musim gugur. Sementara Jepang bagusnya adalah musim semi (spring) karena maskot Sakuranya yang bikin hati mengharu biru.

So, pilihlah jadwal tiket sesuai musim yang terbaik untuk Negara tujuan. Apakah musim hujan bagus untuk traveling? Saya rasa tidak karena akan sangat mengganggu penjelajahan anda. Bulan apakah peak dan low season? Karena sangat mempengaruhi harga tiket yang akan dibeli. Jadi, timing harus sangat tepat untuk menentukan tiket anda!

Soal tiket, anda bisa memilih kenyamanan anda. Apakah dengan pesawat murah (low cost) dan bagasi yang hanya 7 kg nyaman buat anda? Atau lebih suka dengan pesawat high cost dengan bagasi berkilo-kilo adalah pilihan anda? Semua tergantung budget anda. Saya selalu memilih budget PP tidak lebih dari 3 juta rupiah untuk seluruh travel saya, ya berarti saya harus berdamai dengan kondisi perjalanan 8 jam tanpa multimedia dan kaki yang ditekuk dengan sangat terpaksa! Haha.

Bukankah semua ini adalah “kecerdasan” yang ditunjang dengan “pengetahuan”? Percaya saya! Saat anda menyusun itinerary dalam waktu satu bulan seakan-akan anda sudah menjelajahi negara tersebut dari sudut ke sudut. Seolah-olah negara tersebut sudah ada di depan mata anda, tinggal disentuh dan dirasa.

Tiket sudah di tangan, hotel sudah dibooking dengan bookingan “sementara”, pilihlah booking.com yang mana bookingan hotel anda akan anda bayar saat chek-in. Kenapa? Saya sendiri selalu menggunakan cara ini karena saya type traveller yang tidak taat itinerary, bisa berubah kapan saja demi menuruti hasrat penjelajahan saya. Jadi, sangat rugi jika booking hotel yang sudah dibayar sebelumnya. Saya memilih booking.com, bisa saja saya merubah plan travel dan saya tidak harus kehilangan uang karena bookingan hotel saya bersifat sementara.

Kalau perlu, booking hotel itu per hari, dalam satu hari booking lah lima sampai enam hotel/hostel. Mumpung gratis ini kan ya? Jadi anda tidak lagi heboh dan galau dengan hotel yang anda booking. Banyak sekali yang galau dan konsultasi ke saya “wah bagus ya tempatnya, saya ingin kesana tapi saya sudah booking dan bayar hotelnya di kota satunya, masak saya harus kehilangan uang yang saya sudah bayar?”

Walaupun cara ini kurang terpuji bagi traveller, namun aplikasinya sendiri memungkinkan untuk itu, kenapa tidak? Kita harus independent! Jangan bookingan hotel mempengaruhi hidup kita. Kita lah yang menentukan kapan dan dimana kita akan menginap! Serta kapan dan kemana kita ingin menjelajah! Ingat! Kita adalah rajanya!

Siapkan tabungan! Anda tidak mau menjadi gelandangan kan di Negara orang? Soal tabungan bisa sangat bervariasi, ada yang lebih suka bawa dollar USA saat traveling sehingga menukarnya ke uang lokal lebih gampang, ada yang lebih suka menggunakan credit card atau juga tarik tunai di ATM, hal ini sesuai selera dan perhitungan budget per hari anda.

Untuk Negara yang butuh Visa, kelengkapan seperti Tiket, Bookingan Hotel, dan tabungan dengan perkiraan Rp. 2.000.000 × jumlah hari traveling menjadi syarat utama saat mengurus Visa. Jadi sebelum uang dibelanjakan, datang ke Bank dulu untuk print rekening 3 bulan.

Khusus untuk Jepang, anda harus mengelola kegalauan tentang transportasi. Banyak sekali pilihan transportasi yang sebaiknya sudah anda “fixed” kan saat anda masih di Indonesia. Dan selamat menikmati kegalauan ini hingga mungkin separuh budget anda sudah harus habis sebelum anda berangkat. Hehe

Awarness dan kemampuan anda untuk mengelola diri sendiri sudah ditantang sejak fase ini. Semampu apa anda traveling sendiri? Semampu apa anda menjalani perjalanan panjang itu? Liku-liku trouble yang sudah harus diperkirakan di awal. Semua akan bermuara pada seberapa besar percaya diri anda! Logika harus dibungkus dengan “feel”. That’s why kenapa pada fase ini banyak orang gagal solo travel karena kemudian banyak yang menunggu “adakah teman yang mau gabung?” sekalipun persiapan sudah sangat matang banyak yang gagal “rasa percaya diri” dan mencari travelmate. Tahukah anda? Travelmate bisa sangat menyenangkan namun bahkan bisa sangat menyebalkan!

Bahkan sebelum anda berangkat, travelmate bisa sudah sangat menyebalkan, mendadak tidak jadi berangkat atau ritme ketukan langkah anda yang tidak seirama. Bukankah menunggu itu sangat menyesakan hati? Apalagi memastikan sebuah ketidakpastian? “broo sorry ternyata cuti ku gak di acc! Sorry dorry morry ya!” WTF!

Berangkat! Akan muncul decak kagum dalam perasaan anda. Bukan lagi soal hiruk pikuk travelling nya, tetapi lebih apakah anda akan mampu mengeksekusi plan anda dengan baik?

Imigrasi dan Cukai akan menjadi musuh anda pertama. Keringat dingin mulai muncul sebulir-bulir biji jagung, sebanyak ketidakyakinan anda apakah semua akan baik-baik saja? Wajah petugas imigrasi seakan-akan hendak menerkam anda dengan lirikan seolah-olah kita ini nasabah yang hendak pinjam uang ke sebuah bank, setajam seorang kritikus yang ingin menilai kita dari ujung rambut hingga ujung kepala. Saat meminta kita meletakan jari untuk finger print dan menatap kamera untuk difoto, pucak kegalauan itu mendebar-debar. “Thank you, welcome to Japan, nice trip!” wah! Rasanya kayak kebelet buang air dan ketemu toilet yang lagi kosong dari antrian!

Eits! Tunggu dulu, Cukai belum selesai. Saatnya bermain drama, beracktinglah sedemikian rupa bahwa anda adalah benar-benar traveller dan bukan pencari kerja. Tunjukan wajah antusias anda bahwa anda sungguh sudah mencari tahu banyak tentang negara tujuan, anda akan tinggal dimana dan anda akan kemana saja. Saat diminta buka tas, bukalah dengan semangat dan menunjukan apa isi tas anda yang tak lebih dari tumpukan baju dan dokumen perjalanan anda. Berterimakasihlah sebelum meninggalkan Cukai  satu hal yang seringkali terlupa terucap karena sebegitu canggung nya hahaha.

Kebanyakan Airport di luar negeri memiliki letak yang sangat jauh dari kota, musuh anda selanjutnya adalah mengelola budget! Biasanya dari Airport ke Kota disediakan jaringan Subway Airport yang biayanya mahal ampun. Misalnya di Bangkok, dari Don Mueang biasa saya pakai Bus A1 menuju Mochit, dari sana baru berpindah ke Subway yang mana saya bisa menghemat budget dengan sangat luar biasa daripada saya menggunakan taxi atau lemousin airport. Atau, saat landing di Incheon terdapat dua macam kereta menuju Seoul yaitu kereta Airport yang sangat mahal di sebelah kanan, namun jika memilih All Stop Train di sebelah kiri anda akan sangat menghemat budget. Semua tergantung pilihan anda!

Saat sudah di jantung kota, anda bisa mengakali cara makan anda sehingga budget anda terjaga tanpa anda harus kelaparan dan menjadi berasa miskin papa. Sarapan anda bisa memilih Sevel dan Familly Mart yang menjual makanan berat cuma dengan 20-40 ribu, siang hari perut dijejali cemilan-cemilan murah dan pada malam hari baru memanjakan hasrat kuliner yang biasanya berkisar harga 70 ribu.

Di Indonesia Timur budget makan 150 ribu per hari bukanlah hal yang mustahal! Lalu kenapa sewot dengan budget sebanyak ini di luar negeri? Ya harus berdamai dengan kondisi bahwa di luar negeri makanan dikemas dan disajikan sebegitu menariknya, ada harga yang harus dibayar untuk tidak hanya sekedar “memasukan” makanan dalam perut, namun menikmati sajian kuliner itu dengan nilai dan rasa syukur, “saya bisa loh makan susi di negara Jepang! Atau bimbibab di Korea!”. Bukankah harga dari rasa itu tak ternilai?

Menginap di negara lain, bisa diakali dengan berbagai cara. Ada beberapa yang ingin lebih damai dengan memilih hotel yang sudah pasti harga lebih mahal. Di kota-kota Indonesia budget 500 ribu sudah dapat hotel yang sangat nyaman, namun di Singapore, Korea dan Jepang harga segitu baru hotel dengan kondisi “terbatas”. Beda dengan Bangkok, India, Vietnam dan Malaysia dengan harga 500 ribu anda sudah dapat tidur dengan sangat nyaman.

Apakah anda hanya butuh untuk tidur? Kalau saya tidak. Saya butuh murah! Dan karena saya Solo Traveller saya memilih budget Hostel dimana saya harus berbagi kamar dengan enam orang dalam satu ruangan. Hanya karena murah? Tidak juga. Apa yang terjadi saat anda sekamar dengan bule asal Amerika? India? Inggris? Italia? Perancis? Bukankah itu perpustakaan hidup? Anda bisa memulai dialog dan berbagi tentang banyak hal?

Saya orang Indonesia yang lumayan bangga dengan negara sendiri dan bermodalkan kata “Bali” yang sudah sangat dikenal oleh orang dari sudut negara manapun. “yeah, I am come from Bali, did you ever go there? I have the best beach’s view for you!” seakan-akan kita punya dapur yang tidak dia miliki, bahkan dengan sangat bangga kita punya kursi duduk yang sejajar untuk bicara banyak mengenai pengalaman traveling, membuat wajahnya merona dan matanya berbinar-binar melihat ekspresi kita menjelaskan “wow! It was an amazing place!”. Apakah budget hotel/hostel kita hanya sebuah harga kamar untuk sekedar tidur? Absolutelly not!

Selain hostel, di Korea saya selalu menginap di Jimjilbang. Dengan harga 13.000 Won yang adalah separuh dari harga hotel normal, saya sudah bisa menikmati berendam di air hangat dan kasur hostel di lantai atasnya, which is Korea itu selalu menyerang dengan hawa udara dingin yang amat sangat menikam saat menjelang sore, Jimjilbang adalah solusi! Setali tiga uang, kita membayar mandi air panas sekaligus dapat tempat yang sangat nyaman untuk tidur pada malam harinya.

Di ruang Familly Ground nya kita bisa berkenalan dengan orang Korea dan memulai percakapan hangat disana. Sekali lagi, bukan harga yang dibayar untuk hanya sekedar tidur, namun menjelajahi “cara hidup” orang lain yang pasti berbeda dari kita. Disanalah “buku-buku hidup” itu kita baca dan kita pelajari.

Solo travel seolah-olah memproklamirkan kepada semua orang yang kita temui “saya sendiri, dan saya available untuk berkenalan, saya bebas untuk bersama anda menjelajah kemanapun, a.k.a saya lonelly banget nih! Temenin dong!”. Mengundang beberapa orang yang kita temui di jalan untuk pergi bersama-sama, biasanya sesama solotraveller juga. Disanalah anda akan menemukan link yang bakal manjadi sahabat.

Saat saya di Busan saya ketemu Jae Ha yang mengijinkan saya beristirahat di rumahnya serta mengantar saya ke terminal dengan mobilnya, saat di Seoul saya ditraktirnya makanan Korea yang ampun enaknya.

Saat di Bangkok saya ketemu Tim asal Jerman dan mengajak keliling berdua “are you travel alone? Lets hangout together” sekalipun bahasa inggrisnya terbata-bata, begitupun saya. Kita menjelajahi Bangkok berdua dan kini kami masih komunikasi via instagram.

Saya juga bertemu dengan Veneon asal Malaysia, hanya karena ingin memasuki kuil dan kita sama-sama bercelana pendek “do you have a shawl? We have to buy so we can entry the temple” berujung dengan persahabatan yang masih terjaga hingga sekarang.

Berkenalan dengan Jeremiah asal Amerika Serikat yang baru berumur 16 tahun di dalam pesawat dan merasa tertampar “kemana aja saya selama ini? Kenapa saya hanya berkubang di lumpur penuh kotoran, sementara ini anak 16 tahun sudah menjelajah hampir separuh permukaan dunia?” Berusaha lari mengejarnya pun tak akan pernah tertangkap. Alhasil, mencoba memahami ketahanan batinnya saya ngetrip bareng anak ini dan belajar banyak darinya.

Terakhir saya ke Alpine Route bertemu dengan tiga mbak-mbak kece asal Jakarta “mas nya yang Dolan Dewe itu kan ya? Saya baca loh tulisannya!” dan hari itu pun berjalan dengan penuh rasa ceria! Saya sangat bangga bertemu dengan traveller sebangsa di negeri Jepang, setelah 13 hari saya memilih sendiri di Jepang, hari terakhir itu pecah dengan tawa canda!

Apakah anda melihat, solotravel hanyalah sebuah acara jalan-jalan memahami seisi Museum yang penuh dengan benda mati yang tak terjelaskan asal-usulnya? Melihat bangunan-bangunan kuno yang bagus difoto dan aslinya sangat membosankan? Solotraveling mengijinkan anda untuk membuktikan siapa seutuhnya anda!

Saya sudah “menakhlukan” beberapa Negara, kata yang saya sengaja gunakan karena memang sejak berawal dari niat, menyusun perjalanan, mempersiapkan, sampai pada eksekusinya saya lakukan sendiri. Saya menyusuri setiap sudut dengan kaki sendiri hingga saatnya berakhir saya dengan bangga mencentang kolom negara yang telah saya kunjungi.

Kini, saya pun bisa menatap mata anda dengan tegas menceritakan tiap jengkal yang telah saya lampaui. Meskipun, tak pernah ada kata puas, masih banyak yang belum tersentuh!
Saya akan terus menjelajah! Seluas dunia ini diciptakan dan dipamerkan oleh Yang Maha Kuasa, saya akan menempuhnya!

Sudah siapkah anda menjadi Solotraveller?

Pictures gallery of HOW TO BE A SOLOTRAVELLER?

  • a
Advertisement
advertisement
HOW TO BE A SOLOTRAVELLER? | Backpacker | 4.5