Happy Family Travel in Jeju2 s.d. 6 Januari 2020

Wednesday, January 22nd, 2020 - Korea
Advertisement
advertisement


Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih untuk para suhu serta para senior di grup ini yang telah banyak memberikan berbagai info seputar Korea yang sangat membantu dan memudahkan kami dlm menyusun rencana perjalanan liburan di Jeju.
Mohon izin berbagi pengalaman kami sekeluarga yaitu saya dan istri beserta kedua putri kami yang berusia 8 tahun dan 1 tahun 9 bulan, melancong di Jeju selama 5 hari 4 malam, semoga bermanfaat…
— this is very long post —-#BIJeju#Jeju#Itinerary#BIKorea
Hari 1

Wardah/Wareuda Restaurant

Jeju Masil Guesthouse – Wardah/Wareuda Restaurant – Jungang Underground Commercial Center – Dongmun Market
Setelah sehari sebelumnya kami terbang dari Pontianak menuju KL dan menginap semalam di Tune Hotel KLIA 2, pagi ini kami melanjutkan penerbangan dari KL menuju Jeju. Pesawat lepas landas jam 8 pagi dan tiba di Jeju Int’l airport sekitar jam 15.00 waktu Korea. Sewaktu didalam pesawat, pramugari akan membagikan arrival card untuk foreigner yang akan mengunjungi Jeju. Isilah terlebih dahulu kartu kedatangan dan pernyataan bea cukai tersebut agar sewaktu turun kita dapat langsung menuju imigrasi.
Setelah tiba di imigrasi dan sudah mulai antrian, keluarga kami diminta untuk maju duluan ke depan karena kami membawa bayi (keuntungan ada bayi adalah sering dijadikan prioritas dalam antrian, hehe). Petugas imigrasi juga tidak mempersulit dan banyak tersenyum sambil mencoba bercanda dengan anak kami yang bayi. Petugas imigrasi hanya mengkonfirmasi apakah kami dari Indonesia dan apakah pekerjaan pekerjaan kami sesuai yang dicantumkan pada arrival card.
Sementara itu kami juga sempat melihat pemuda di counter sebelah kami juga ada ditanya beberapa hal seperti berapa lama akan tinggal di Jeju, dengan siapa dan berapa orang rombongan dia datang, dan akan menginap dimana.Setelah dari imigrasi, ada bagian bea cukai yang menanti. Saya kira mereka akan melakukan scan atau pemeriksaan barang, tapi mereka hanya meminta surat pernyataan terkait bea cukai yang telah kami isi sebelumnya.
Selepas itu kami pun beranjak keluar dari gate 3 langsung menuju bis 343 yang kebetulan sedang berhenti untuk membawa kami menuju ke penginapan. Kami membayar menggunakan uang cash karena belum membeli T-money.
Sekitar 15 menit perjalanan kami pun tiba di Jeju Intercity Bus Terminal yang terletak hanya sekitar 100 meter dari penginapan kami, Jeju Masil Guesthouse. Sebelum check in, kami sempatkan membeli dulu T-money di GS25 yang terletak di jalan depan sebelum masuk penginapan. T-money ini sendiri selain dapat digunakan untuk bayar bus maupun taksi, juga bisa untuk berbelanja di GS25. Untuk sinyal sendiri kami mengandalkan wifi yang tersebar diseluruh penjuru Jeju yang kecepatan koneksinya sangat bisa diandalkan, di setiap bis/taksi/hotel/bangunan maupun halte juga pasti terdapat sinyal wifi dan semuanya gratis.Untuk Jeju masil guesthouse, ulasannya dapat dibaca disini : https://m.facebook.com/groups/1468005403448997?view=permalink&id=2530006607248866
Malamnya, dengan menggunakan bus 332, kami menuju Wardah / wareuda restaurant untuk makan malam, salah satu tempat makan halal di Jeju. Restoran ini relatif cukup kecil, hanya tersedia 4-5 meja tamu, namun menyediakan makanan halal ala timur tengah. Kami pun mencoba sup kambing plus nasi briyani dan roti naan, porsi yang disediakan cukup banyak untuk ukuran orang Indonesia umumnya. Pegawai restoran ini cukup fasih berbahasa Inggris dan senang mengajak ngobrol pengunjung yang datang. Yang menarik juga di restorant ini adalah adanya uang kertas yang ditempel dari berbagai Negara, termasuk salah satunya Rupiah Indonesia.
Setelah makan kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Jungang underground commercial center karena jaraknya cukup dekat, setelah itu kami menuju ke Dongmun market dan terus pulang menggunakan bus 332.

Hari 2

kebun canola

Hallasan (yeongsil) – Bomnal Café – Monsant de Aewol
Kami agak siang melakukan perjalanan untuk menjaga kondisi anak-anak agar tidak terlalu kelelahan setelah perjalanan. Pada hari ini kami memulai petualangan ke gunung Halla melalui yeongsil. Kami berangkat menggunakan bus 240 dari Jeju Intercity Bus Terminal dan bertemu teman-teman sesama traveler dari Indonesia yang juga akan ke gung Halla. Kondisi bis padat dan penuh karena sepanjang perjalanan ada banyak juga orang-orang yang menuju gunung Halla. Setelah sekitar 1 jam, kami tiba di halte bus yeongsil, dan kita harus menyambung menggunakan mobil atau taksi untuk naik karena pintu masuk trek ke gunung Halla berada cukup jauh. Alhamdulillah kami beruntung mendapat tumpangan dari orang Korea yang sedang berlibur bersama keluarganya karena (lagi-lagi) dia melihat kami membawa bayi. Kami tiba di pintu masuk sekitar 10.30 tapi tidak diizinkan untuk naik ke atas (walaupun memang kami agak ragu juga untuk naik ke puncak karena ada anak-anak dan bayi), jadinya kami menikmati saja lokasi disekitar pintu masuk tsb yang juga menyajikan panorama yang menyenangkan..
Dari gunung ke laut, setelah dari Hallasan kami kembali ke Jeju Intercity bus terminal menggunakan bus 240 untuk melanjutkan perjalanan menggunakan bus 202 selama sekitar 1 jam ke lokasi k-drama lover yang berada di sebelah barat pulau Jeju, yaitu bomnal café dan monsant de-aewol. Kedua tempat ini berdekatan dan berada di kawasan yang banyak terdapat café-café yang berada di pinggiran laut. Selain Bomnal dan Monsant, sejatinya banyak pilihan café atau tempat nongkrong di kawasan ini yang tak kalah ciamiknya, tapi karena kedua cafe tersebut pernah tampil dalam K-drama menjadikannya lebih ramai pengunjung baik yang ingin sekedar berfoto atau menikmati cappuccino dengan panorama birunya laut. Kedua café tersebut serta café-café lainnya di kawasan aewol ini juga menyajikan lokasi foto yang instagramable dan sajian cappuccino / latte maupun teh yang nikmat untuk menemani kami menikmati senja sore hingga terbenamnya matahari. Banyak terlihat noona maupun eonni yang nongkrong atau sekedar berfoto-foto disini. Untuk memasuki atau berfoto-foto di dalam bomnal café, kita diharuskan untuk melakukan pemesanan minuman terlebih dahulu, sedangkan di monsant kita tidak diharuskan untuk memesan makanan/minuman untuk berfoto-foto di kawasan cafe.

Hari 3

Cheonjiyeon Falls

Eco Land Theme Park – Jeju Folk Village – Seongsan Ilchulbong – Canola Garden – Seopjikoji – Jeju Rahman Masjid
Perjalanan kami hari ini difokuskan pada wilayah sebelah timur pulau Jeju dan melihat banyaknya tujuan maka demi efektifitas waktu dan kemudahan mobilisasi, kami memutuskan untuk mengunakan transportasi dengan menyewa mobil/taksi plus pengemudinya. Kami mendapat informasi tentang penyewaan mobil/taksi dengan pengemudi berbahasa Inggris di Jeju yaitu Global Taxi. Kami akhirnya menggunakan jasa Mr. Son, seorang warga negara Korea mainland yang memutuskan untuk pindah ke Jeju karena terpikat dengan keindahan alamnya. Mr. Son cukup lancar berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Selain menyediakan angkutan untuk 4 orang, Mr.Son juga menyediakan angkutan untuk 8 orang dengan harga yang lebih murah dari mobil/taksi lainnya.Tulisan mengenai Mr. Son dapat dibaca disini : https://www.facebook.com/groups/1468005403448997/permalink/2532633773652816/
Tujuan pertama kami adalah Eco Land theme park dengan atraksi utamanya kereta yang menjelajahi hutan misterius ‘Gotjawal Ecosystem’, yang merupakan bagian dari gunung Halla Harga tiket masuk untuk dewasa adalah 14.000 KRW, untuk anak-anak 3-12 tahun 8.000 KRW, sedangkan untuk bayi dibawah 3 tahun gratis. Tempat ini tidak hanya menyenangkan untuk anak-anak tetapi orang dewasa dan orang tua pun dapat menikmatinya. Terdapat 5 stasiun dimana masing-masing stasiun memiliki tema tersendiri dan banyak tersedia hal-hal menarik untuk dilihat maupun lokasi spot foto yang ciamik. Kereta akan berjalan setiap 30 menit dan kita bebas untuk naik dan turun menjelajahi destinasi pada tiap stasiun. Kita dapat menjelajahi danau ditengah hutan, padang rumput, kincir angin / windmill, kapal ditengah padang pasir, padang ilalang, taman bunga canola, rumah-rumah kurcaci, arena bermain anak, menyusuri hutan yang asri, dll.
Tujuan kami selanjutnya adalah Jeju Folk Village, yang sering digunakan untuk shooting film dan drakor bertema kerajaan atau kehidupan Korea zaman dahulu. Tiket masuknya untuk dewasa 10.000 KRW, dan untuk anak-anak 6.000 KRW. Hal yang harus dipersiapkan untuk mengeliling tempat ini adalah kaki. Kawasan Jeju Folk Village yang sangat luas sejatinya adalah sebuah museum outdoor yang terdiri dari banyak hal untuk dilihat. Di dalam kawasan yang kentara suasana tradisional ini kita bisa melihat dan merasakan kehidupan masyarakat Korea pada zaman dulu kala dengan melihat replika perumahan maupun komplek kerajaan. Anak-anak juga akan menyenangi tempat ini karena terdapat mini zoo (dan ada animal feeding experience), kebun jeruk, serta tempat permainan tradisional Korea. Sebagai tempat yang terkenal karena dijadikan lokasi shooting drakor Jewel in Palace, di tempat ini juga terdapat beberapa baliho Dae Jang Geum yang tengah tersenyum bahagia melihat kedatangan kita.
Beranjak ke Seongsan Ilchulbong, kami sempatkan makan terlebih dahulu pada salah satu restoran muslim friendly yang menyediakan menu abalone / oyster khas Jeju dengan harga yang cukup bersahabat dan berada di daerah Seongsan. Seljutnya kami menuju ke kawasan Seongsan Ilchulbong yang sangat ramai dengan turis. Angin di kawasan ini sangat kuat sehingga perlu disiapkan pakaian untuk mengantisipasi hal tersebut. Ada dua jalur untuk memasuki kawasan yang termasuk dalam UNESCO World Heritage ini, yaitu jalur sebelah kiri yang tidak dipungut biaya alias gratis (asiiik…) dan jalur sebelah kanan dengan tiket berbayar, yaitu dewasa 5.000 KRW, anak-anak 2.500 KRW. Dengan memilih jalur berbayar, kita berkesempatan menapaki jalur menanjak menuju ke puncak dengan jarak yang lebih dekat dengan kawah bekas gunung berapi untuk mendapatkan view yang lebih bagus. Namun demikian, jalur yang gratis juga menyajikan pemandangan yang indah, kita dapat melihat kawah gunung berapi, menyaksikan langsung para ahjumma penyelam mencari abalone, melihat kota Jeju dari kejauhan serta lautan biru. Di kawasan seongsan ilchulbong ini juga terdapat toko-toko yang menyajikan banyak cemilan maupun oleh-oleh / cinderamata. Bagi yang tidak sempat atau tidak mau repot berbelanja oleh-oleh di Jeju, dapat juga berbelanja oleh-oleh disini karena barang-barangnya cukup lengkap dan banyak variasinya serta harganya relatif sama dengan toko di Jeju.
Sambil menuju ke seopjikoji, kami singgah sejenak ke Canola Garden yang berada di pinggir jalan antara ilchulbong dan seopjikoji. Menurut Mr. Son, kebun canola ini awalnya adalah tanah kosong dengan banyak tanaman canola. Akhirnya ada orang yang merawat canola di tempat tersebut dan saat ini mengenakan tarif masuk untuk dewasa 2.000 KRW, sedangkan untuk anak dan bayi gratis. Bunga canola yang berwarna kuning terhampar luas di kebun ini dan merupakan salah satu tempat yang instagramable, bahkan pada beberapa spot foto harus antri untuk mengambil foto.
Tiba di Seopjikoji disambut dengan angin yang cukup kencang seperti di Ilchulbong, mungkin karena sama-sama di pinggir laut. Terdapat beberapa toko yang menjual cinderamata maupun cemilan di lokasi parkiran, saya mencoba jagung rebus yang berharga 2.000 KRW yang ternyata sangat enak karena tebal tapi lembut begitu digigit. Tampak di kejauhan terdapat mercusuar putih yang dapat didatangi dengan berjalan kaki. Pemandangan indah bukit berbatu serta lautan biru juga tersaji di seopjikoji, tak heran tempat ini sering dijadikan lokasi shooting drakor, demikian penjelasan dari Mr. Son yang menyebut seopjikoji maupun tempat lain di Jeju merupakan langganan lokasi shooting, hmm ternyata mr. Son adalah seorang K-drama lover juga.
Dijalan pulang menuju penginapan, menjelang memasuki kota Jeju, tepatnya di daerah ara-dong, kami singgah sejenak di Jeju Rahman Masjid. Masjid ini terletak di lantai 3 sebuah bangunan sauna yang bernama Ara-Sauna yang berada di kawasan apartemen. Meskipun tidak berbentuk seperti masjid di tanah air maupun di timur tengah tapi tetap menunjukkan cirinya sebagai sebuah masjid. Keberadaannya cukup penting sebagai (mungkin) satu-satunya masjid di Pulau Jeju hingga saat ini. Alhamdulillah kami diberi kesempatan mengunjungi masjid ini dan bertemu dengan family traveler juga yang berasal dari Malaysia. Semoga dengan semakin banyaknya turis dari Indonesia maupun Malaysia ke Jeju juga akan meningkatkan kondisi masjid ini.

Hari 4

Eco Land theme park

Hallasan 1100 highland – Teddy Bear Museum – Camellia Hill – World Cup Stadium – Cheonjiyeon Falls – Dongmun Market – Jungang Underground Commercial Center
Hari ini kami masih ditemani oleh Mr. Son menuju destinasi yang terletak di Kota Seogwipo. Sepanjang perjalanan Mr. Son banyak menceritakan tentang kehidupan masyarakat Korea serta seputar perkembangannya dan pemerintahannya.Sebelum menuju Seogwipo, kami singgah di Hallasan 1100 highland. Angka 1100 menunjukkan ketinggian yaitu 1100 mdpl. Di tempat ini kita dapat mengelilingi hutan alami melalui jalur yang terbuat dari papan kayu sepanjang sekitar 15 menit berjalan kaki. Karena saat kami tiba suhu persis 0° C, air sungai di hutan ini pun membeku serta tampak bekas salju tipis meskipun matahari bersinar terang.
Beranjak ke Seogwipo, kami menuju Teddy Bear Museum dengan tiket masuk untuk dewasa 10.000 KRW, remaja 9.000 KRW, dan anak-anak 8.000 KRW. Di tempat yang sangat disukai oleh kedua putri kami, kita dapat melihat sejarah seputar teddy bear, berbagai diorama bertema teddy bear, kehidupan masyarakat Korea dalam bentuk teddy bear, serta segala sesuatu tentang boneka teddy bear, bahkan konser Elvis versi teddy bear. Selain indoor, museum ini juga memiliki lokasi outdoor dengan koleksi robot teddy bear raksasa, serta taman yang asri. Di dekat parkiran museum ini juga terdapat musholla yang dapat digunakan oleh orang yang mengunjungi museum ini atau tempat lainnya disekitarannya.
Selnjutnya kami menuju Camellia Hill, sebelum tiba di Camellia Hill kita akan melewati tempat wisata petik jeruk. Tiket masuk Camellia Hill adalah dewasa 8.000 KRW, remaja 6.000 KRW, dan anak-anak 5.000 KRW. Pecinta bunga maupun tanaman pastilah menyenangi tempat ini, selain hijau dan asri, di tempat yang cukup luas ini juga menampilkan berbagai bunga dan tanaman yang jarang bahkan tidak kita lihat di Indonesia. Anak-anak juga cukup menyenangi tempat ini karena dapat berjalan sambil melihat bunga dan berbagai tanaman. Meskipun mengandung nama “Camellia”, taman bunga ini tidak hanya menampilkan bunga Camellia tetapi juga berbagai bunga-bunga lainnya maupun tanaman lain, baik berada di outdoor maupun didalam rumah kaca. Tempat ini juga cocok untuk dijadikan lokasi foto karena banyak sekali oppa-oppa maupun noona dan eonni Korea yang mendatangi tempat ini untuk menambah koleksi foto cantiknya baik bersama keluarga, pasangan, teman, maupun yang sendiri. Pada salah satu spot foto ada atraksi ahjussi yang akan membuatkan gelembung sabun besar sehingga akan menjadi efek yang unik untuk foto maupun video, di lokasi lain juga dipasang kaca sebagai salah satu spot foto untuk selfie maupun wefie.
Sebelum menuju ke pusat kota Seogwipo, kami mengarahkan ke Jeju World Cup Stadium. Sayang juga rasanya apabila telah berada di pulau Jeju tapi tidak singgah ke stadion megah yang pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA tahun 2002 ini dan Piala Dunia U-20 tahun 2017. Sewaktu kami kesini sedang tidak ada pertandingan karena Jeju United selaku klub sepakbola yang bermarkas di stadion ini sedang tidak bertanding karena K-League (liga sepakbola Korea) telah selesai. Saat itu hanya ada beberapa remaja laki-laki dan perempuan yang tampaknya merupakan siswa sekolah sepakbola yang akan latihan, mereka tampak gemas melihat baby zea. Karena sedang kosong, kami juga menupang sholat pada salah satu koridor stadion ini. Di dalam stadion ini juga terdapat museum khusus orang dewasa yang dapat dikunjungi, yaitu museum amor.
Usai melihat rumput hijau Jeju World Cup Stadium, kami dibawa Mr. Son mengelilingi kota Seogwipo sejenak sebelum akhirnya menuju ke Cheonjiyeon Falls. Di tempat ini terdapat air terjun yang cukup tinggi namun karena sedang winter sepertinya volume airnya agak berkurang. Tiket masuknya seharga 2.000 KRW untuk dewasa, dan 1.000 KRW untuk anak-anak. Dari lokasi parkir kita perlu berjalan 5-10 menit menuju air terjun ini. Selain itu ada juga bebek-bebek yang berenang pada sungai yang berasal dari aliran air terjun tersebut. Di lokasi spot foto juga ada ahjussi yang menyewakan hanbok sekaligus menawarkan jasa foto. Tempat ini adem dan cukup menarik serta banyak terdapat toko-toko yang menjual souvenir / oleh-oleh dengan harga yang relatif sama dengan di Jeju, ada juga toko yang menjual cemilan maupun café yang menyediakan kopi dan teh. Saya kembali menikmati jagung rebus seharga 2.000 KRW disini sebagai teman perjalanan pulang.
Sepulangnya ke Jeju, kami minta untuk diturunkan di Dongmun Market yang sekaligus menjadi perpisahan kami bersama Mr. Son. Si kakak Chila tampak sedih harus berpisah dengan Mr. Son yang berpesan supaya Chila rajin belajar terutama bahasa Inggris dan nanti kuliah di Jeju saja pesannya. Kami pun melanjutkan berbelanja bahan makanan untuk kami masak makan malam yaitu mini lobster dan sayuran.
Selanjutnya kami lanjut ke Jungang Underground untuk berbelanja skin care dan oleh-oleh. Di Jungang banyak sekali terdapat pilihan toko yang menjual berbagai merk skin care yang tersedia pula testernya. Selain itu juga banyak terdapat toko yang menjual berbagai pakaian dengan model yang beragam dan harga yang bervariasi. Pakaian winter juga banyak dijual sehingga apalabila kita tiba di Jeju belum membawa bekal pakaian winter kita dapat langsung menuju kesini. Di Jungang kami hanya melihat 1 toko yang menjual souvenir / oleh-oleh.
Sebelum pulang kami sempatkan singgah untuk foto-foto di depan Jeju Mokgwana atau bekas kantor pemerintah pusat Jeju dari tahun 1392 hingga 1910. Pada 1910 saat Jepang menjajah Korea, bangunan ini dihancurkan oleh Jepang. Bangunan yang ada saat ini merupakan pemulihan/pembangunan kembali pada 2002 berdasarkan pendapat para ahli dan dokumen-dokumen lama.
Sebelum menuju penginapan menggunakan taksi kami membeli ubi panggang seharga 5.000 KRW. Warna kulitnya keungunan dengan isi berwarna kuning terang dengan rasa yang manis dan enak. Ahjussi penjual ubi bakar ini sangat khas dengan tempat jualannya yang seperti mobil gerobak mini.

Hari 5

Teddy Bear Museum

Hanbok experience at Jeju Masil Guesthouse – Jeju Int’l airport
Sebelum meninggalkan Jeju, kami mencoba salah satu fasilitas yang disediakan oleh Jeju Masil Guesthouse, yaitu Hanbok experience. Tidak ada biaya tambahan yang harus dibayar untuk kita mencoba menggunakan dan berfoto dengan berbagai hanbok ini alias gratis. Ada banyak pilihan warna dan motif yang dapat kita pilih serta tersedia studio foto mini, apabila kurang puas dengan foto indoor, kita dapat membawa hanbok ini untuk berfoto-foto disekitaran penginapan.
Kami juga membeli coklat jeruk “JeKiss” berlabel halal di Jeju Masil GH ini, harganya lebih murah dari tempat-tempat lainnya yang menjual dengan produk serupa. Apabila di tempat lain harganya 10.000 KRW per kemasannya maka di Jeju Masil GH harganya ada yang 8.000 KRW dan ada pula yang 9.000 tergantung jenisnya. Rasanya manis, enak dan lumer didalam mulut, jangan lupa untuk mencoba kelezatannya.

Camellia Hill


Walaupun jadwal penerbangan pada jam 15.00, tetapi tidak ada salahnya kita berangkat lebih awal ke bandara, karena rata2 waktu check out di Jeju adalah jam 11.00. Meja untuk check in dan bagasi sendiri baru dibuka sekitar jam 12.00. hanya ada mesin pencetak boarding pass untuk Korean Air di bandara Jeju, sehingga selain maskapai tersebut walaupun kita sudah check in online kita harus antri untuk mencetak boarding pass maupun untuk memasukkan bagasi. Di bandara Jeju sendiri ada petugas informasi perempuan muda yang berlalu lalang, selain bahasa korea mereka juga menguasai bahasa inggris, mandarin, dan jepang, semoga kedepannya ada yang menguasai bahasa Indonesia juga. Setelah urusan boarding pass selesai kita akan menuju counter imigrasi, disini paspor kita hanya akan discan, paspor tidak akan dicap lagi karena imigrasi Korea hanya sekali mengecap paspor yaitu pada saat kedatangan. Setelah dari counter imigrasi sebelum masuk ke ruang tunggu di sebelah kiri, kita dapat sholat dl karena tersedia musholla di sebelah kanan didepan toko parfum. Musholla yang disediakan cukup baik namun sayangnya untuk wudhu kita harus beranjak ke toilet menggunakan sandal yang disediakan di musholla. Ruang tunggu di bandara Jeju cukup nyaman karena berada dekat dengan pertokoan sehingga apabila dirasa kurang kita masih dapat membeli souvenir/oleh-oleh, coklat, maupun skin care disini, sebelum melanjutkan perjalanan 6 jam menuju KL.

seopjikoji

Demikian itinerary dan informasi yang dapat kami sajikan dari perjalanan kami sekeluarga di Jeju. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada para suhu, senior, serta anggota BI yang telah memberikan informasi dan inspirasi penyusunan itinerary ini.
Semoga tulisan yang panjang ini dapat membantu teman-teman yang sedang merencanakan liburan keluarga ke Jeju. Apabila ada yang kurang berkenan kami mohon maaf, terima kasih.

Pictures gallery of Happy Family Travel in Jeju2 s.d. 6 Januari 2020

Advertisement
advertisement
Happy Family Travel in Jeju2 s.d. 6 Januari 2020 | Noval Backpacker | 4.5