EgoTravelling

Friday, March 29th, 2019 - Uncategorized
Advertisement
advertisement

Pertanyaan sering datang dengan keingintahuan yang besar “kenapa sih dolan dewe? Emang gak sepi ya?” Entah memang didasari oleh rasa ingin tahu ataupun cuma basa basi basah, membuat saya harus menulis ini.

Bahkan mungkin beberapa orang berfikir “mungkin mas nya ini sombong sama pelit, jadi maunya cuma jalan sendiri”.

Dalam konteks pelit, saya akui memang begitulah saya, sangat pelit! Tapi untuk sombong saya berani bilang tidak, saya sangat suka berbagi dan bertegur sapa kok πŸ™‚

Bagi banyak orang, travelling memang seperti acara jalan-jalan dan senang-senang, sepenggal waktu yang disiapkan untuk menghilangkan kejenuhan dan ingin menikmati masa-masa rileks keluar dari rutinitas kerja.

Mereka kemudian mengundang beberapa kawan dekatnya untuk bersama menikmati kota dan negara lain, seru menikmati canda tawa dan menangis bersama demi rasa haru bahwa mereka masih bisa berkumpul dan menikmati saat-saat bersama.

Bagi saya, traveling adalah sebuah penakhlukan dan pencarian jati diri. Saya memasang bendera-bendera negara yang pernah saya kunjungi di profil saya dan saya “kecanduan” untuk terus menambah daftar negara, negara yang selalu saya tempuh dan takhlukan sendiri.

Pun negara-negara tersebut memiliki value yang kini saya telah serap untuk merasakan pencarian jati diri saya. Emang hilang jati diri? Anda tidak akan pernah paham dengan baik siapa diri anda sebenarnya sebelum anda benar-benar mendapat saat-saat dimana anda mengijinkan diri sendiri anda muncul, banyak metode bisa dicapai dan saya menemukannya dari travelling. Dengan definisi inipun saya yakin tak banyak orang bisa mengerti perasaan saya :p

Saya bekerja, dan saya benar-benar susah untuk mengatur soal waktu, kapan saya bisa “nyolong” waktu untuk travelling. Semenderita saat saya “kecanduan” pun, saya harus menahan rasa itu untuk benar-benar bisa memperkirakan kapan saya bisa traveling. Berperang dengan “nafsu” yang luar biasa untuk segera booking tiket yang murah padahal waktu belum pasti. Alhasil, harus pasang taruhan yang jika gagal maka wajib siap lahir bathin dengan menguapnya tiket dan hilangnya duit yang telah dibayar.

Di titik itu saya tidak pernah berani open trip ataupun membuat kesepakatan dengan orang lain untuk travel bareng, jadwal saya benar-benar susah diduga. Jadwal saya lebih kejam dari datangnya tsunami yang biasanya masih ditandai dengan gempa bumi, saya benar-benar diderita oleh kemelut pekerjaan yang jadwalnya sungguh keterlaluan, tak pernah bisa dimengerti.

Mendadak saya memutuskan untuk traveling, itu pun biasanya sudah sangat mepet waktunya. Sesegera mungkin segala persiapan dipenuhi, meski hanya menyoal tiket dan dokumen yang memang harus benar-benar dipastikan siap. Persiapan lainnya saya eksekusi secara go show! Disitulah seni travelingnya. Dengan kondisi begitu siapa yang masih mau travel bareng saya?

Saya type “unprepare guy”, segala sesuatu dieksekusi mendadak dan sangat situasional. Sekalipun saya sangat suka membuat itinerary dan travel plan di saat-saat santai, tapi jujur saya akui justru pada saat traveling semua berjalan sesuai instink dan hampir seluruhnya keluar dari agenda yang saya persiapkan.

Type ini menjadikan saya sangat enggan untuk kompromi, yang jatuhnya lebih saling menggantungkan diri pada orang lain. Baperan mikirin apakah kesenangannya sama atau apakah aku terlalu agresif bahkan mungkin terlalu lambat?

Type seperti saya, sisi oportunis dan egoisnya melonjak sangat tinggi saat traveling dan tidak banyak yang paham ritme traveling saya ini. Jatuhnya, anda akan benar-benar illfeel dengan eksekusi-eksekusi saya, pulang bukannya bahagia, yang ada adalah anda akan sangat kesal dengan tingkah laku saya πŸ™‚

Saat misalkan demi menghemat saya menempuh Tokyo-Osaka dengan bus, beli tiketnya saat itu juga dan berburu harga termurah, dapatlah saya bus yang akan saya tumpangi selama 6 jam. Apakah semua travel mate saya siap dengan ini? Saat sampai di Osaka Stasiun saya langsung menuju Osaka Castle bahkan belum mandi dan hanya sikat gigi, saya baru mandi siang harinya bertelanjang ria di Onsen. Sarapan selalu terlambat dan saya mengisi perut hanya dengan cemilan-cemilan yang saya beli di Sevel. Apa semua orang siap travel bareng saya?

Di Korea, demi meladeni oportunis saya yang meroket tajam, tiap malam saya menginap di Jimjilbang seharga 15.000 dan paginya saya selalu titip backpack saya di luggage box seharga 3000 Won. Total sehari biaya menginap dan luggage box seharga 18.000 Won sudah sangat menghemat hotel yang biasa seharga 35.000-50.000 Won. Saya berfikir itu adalah pilihan termurah, lalu apakah kawan bisa sejiwa dengan saya?

Di India yang super panas itu, saya menempuh mostly travel saya dengan jalan kaki, padahal naik Bemo aja cuma habis 30 ribu, apakah saudara mau bareng saya panas-panasan jalan kaki?

Kenapa harus jalan kaki? Saya menikmati gedung-gedung India plus joroknya jalanan dan gang, sambil mendengarkan musik classic di earphone saya, dengan adanya anda saya pasti jadi ga enakan dan kehilangan moment itu, pun kalau saya kekeh dengan kebiasaan saya ini, anda pasti bete dan baper merasa tak diperdulikan oleh saya bukan?

Saya suka tidur di Airport, hampir setiap hari terakhir perjalanan saya nikmati dengan tidur di airport. Nyaman? Tentu tidak! Tidur di lantai dan beruntung kalau dapat karpet, kadang saya tidur di kursi-kursi yang empuk pun tidak. Tak pernah mandi dan hanya sikat gigi, masih ingin jalan-jalan sama saya?

Saya sangat bahagia jika berkenalan dengan orang lokal, entah kenapa kalau travel sendiri itu lebih bisa “intim”, mereka lebih welcome untuk mendekati saya dan mengajak ngobrol, mungkin karena kasian sama saya kali ya? Dan biasa berlanjut menjadi petualangan seru bersama. Tapi kalau kita segerombolan bersama, orang lokal kurang begitu berniat mendekati saya “ahh dia sudah banyak kawan ngapain aku dekatin dia”, begitulah kira-kira fikirnya.

Begitulah hingga saya simpulkan kenapa saya suka dolan dewe, makin saya ulas alasan pastinya makin bikin nyesek hati bukan? Tapi begitulah saya dan saya membalas rasa bersalah saya dengan selalu memposting detail perjalanan saya, berharap semoga mempermudah kawan yang ingin ber-dolan dewe seperti saya.

Tidak ada yang mustahil kawan! Dengan keterbatasan waktu yang saya miliki pun uang yang sangat pas-pasan, di tahun 2016 saya memulai travel ke Malaysia, Singapore dan Thailand. Lalu pada 2017 saya sudah berkeliling China, Bangkok-Pattaya, Hongkong, Macau, Seoul-Busan, Vietnam Ho Chi Minh. Pada 2018 saya mengunjungi Danang, Jepang Tokyo-Osaka-Nara-Kobe-Kanazawa-Shirakawago-Tateyama-Nikko, Vietnam Hanoi India Jaipur-Agra-New Dehi, Nepal dan semoga terwujud November besuk saya ke Oman dan Turkey.

Saya sombong? Iya saya sombong ke anda karena sebenarnya anda pun mampu untuk sombong ke saya juga. Penakhlukan itu bisa dicapai dengan kemauan, dan tentunya karena saya solotravel yang tak harus kompromi jadwal dengan orang lain. Membuat kesepakatan travel dengan orang lain itu jatuhnya selalu gagal sementara solotravel mencipta pribadi bebas, semakin bebas semakin banyak penakhlukan yang anda capai.

Saat anda traveling sendiri, anda akan banyak menemukan sisi spiritual di setiap negara yang anda lalui. Karena kesendirian itu, adrenalin anda melonjak tinggi, rasa penasaran anda mendapatkan tempatnya. Saatnya menghitung kemungkinan “saya mampu atau tidak?” Segala partikel rasa berani itu diproduksi oleh diri anda sendiri, tanpa butuh pendapat dan dorongan dari orang lain. Disitulah jati diri anda menunjukan wujud aslinya!

Jantung anda akan berdebar dan retina anda melebar, kalaupun misal anda bersayap tentu setiap bulunya akan merenggang kuat dan membuat anda mengepak dan terbang! Anda akan merasakan sensasi jati diri, seberapa tangguh anda! Hari ini kegantengan atau kecantikan tak lagi hanya muncul dari paras wajah, namun dari sosok tangguhnya anda!

Lelaki mandiri dan tangguh, menyelesaikan segala sesuatu dengan kemampuan sendiri, mencipta rona wajah bersinar dan punggung yang siap untuk dipeluk dan kepala lawan jenis pun bersandar bahagia. Bukankah disana kegantengan tercipta? Begitu cantiknya anda terlihat, karena ketangguhan anda memancar kuat.

Begitulah Dolan Dewe dengan jiwa solotravellingnya dan fotonya yang selalu sedakep. Mungkin bukan karena fotonya, tapi karena aura tangguh itu memancar kuat bukan? Dan aura itu sampai di mata dan hati saudara hahahaha! Lalu kenapa terus menunda? Ayok lampiaskan ego traveling anda! Dolan Dewe!!!

Pictures gallery of EgoTravelling

  • r
  • r
Advertisement
advertisement
EgoTravelling | Backpacker | 4.5