Bagaimana Rasanya Terjebak Badai Salju?

Tuesday, March 26th, 2019 - Jepang
Advertisement
advertisement

This gonna be a long loooong story, kalau malas baca dan mau skip ke bagian foto dan tipsnya, monggo scroll aja langsung.

TAKARAGAWA ONSEN

Tanggal 15 januari 2017 kemarin saya dan mama berdua melakukan day trip dari Tokyo ke Minakami, Gunma. Tujuan kita adalah Takaragawa Onsen, yang posisinya di kaki gunung mt. Asahi, di tepi sungai Takaragawa. Kita pilih onsen ini karena 2 alasan utama. Alasan pertama, well… a picture speaks a thousand words. Semua foto tempat itu dari hasil googling super duper cantik!!! Berhubung bukan fotografer profesional, dan kondisi cuaca (more details later on), hasil foto saya cuma sekedarnya. But please do try googling sendiri dan liat view disana. Alasan kedua, karena onsen ini mengijinkan, bahkan mewajibkan tamunya untuk menggunakan penutup tubuh saat mau masuk Berendam. Ini melawan pakem onsen traditional di jepang, dimana biasanya harus fully naked. Kalaupun ada yg membolehkan pakai baju renang, biasanya sudah jadi onsen ala Waterpark gitu, bukan yg terlihat alami. Ohya, selain itu juga, onsen ini memiliki kolam outdoor khusus wanita. Pas banget dengan kriteria yang saya inginkan.

Anyway… perjalanan dimulai dari stasiun Ueno jam 7.54 pagi, menaiki shinkansen max toki, yg merupakan shinkansen double decker, fully covered by Tokyo Wide Pass (kalau bayar 5700¥ one way), Menuju stasiun Jomo Kogen. Kita dapat kursi di deck atas (yaayy!), dan alhamdulillah disuguhi pemandangan indah selama 1 jam perjalanan. Sungguh magical melihat bagaimana perubahan pemandangan di luar jendela, dimana semakin kita ke utara dan naik ketinggian, semakin banyak salju!! Dari yang terlihat belang bentong, sampai full benar2 tertutup salju semua.

Kita sampai di Jomo Kogen pada jam 8.54, dan langsung menuju halte bus untuk mencari bus menuju stasiun Minakami. Cek suhu saat itu, sudah -4° aja, dingin. Hujan salju meskipun masih ringan, tapi terlihat konstan. Gak pakai lama, kita langsung ketemu bus yang dicari, lalu meskipun cuma ada 2 penumpang saja, supir bus langsung cuss jalan. Perjalanan menuju minakami sekitar 20 menit, dan kita sampai di stasiun minakami sekitar jam 9.30.

Stasiun minakami itu hanyalah stasiun kecil, terbagi 2 gedung. Gedung yg lebih besar dan modern merupakan bagian stasiun JR, dan di sebelahnya berbentuk bedeng kayu kecil itu adalah stasiun bus nya. Yg pertama kita lakukan adalah mencari info untuk beli tiket paket PP bus ke onsen dan tiket masuk onsen. Tapi sampai bolak balik tidak bisa menemukan belinya dimana, di kantor JR pun tidak ada, krn memang busnya bukan bus JR. Seharusnya sih mungkin di bedeng itu ya,karena ada meja petugas dan banyak brosur wisata bus, tapi kosong melompong tanpa petugas. Ya sudahlah pasrah… terpaksa kita bayar ketengan aja. Kita akhirnya duduk manis saja menunggu bus yg dijadwalkan jam 10.45. Kenapa harus bus itu? Karena dalam 1 hari, jadwal pagi hanya ada SATU bus yg direct dari stasiun minakami ke takaragawa onsen, begitupun sebaliknya nanti, SATU bus jadwal sore yg direct dari onsen ke stasiun. Lah kalau ketinggalan gimana? Ada sih bus lain, tapi harus turun sekitar 300-400 meter di bawah onsen, dan mendaki naik. Ogah!!

Selama menunggu di stasiun minakami, hujan salju makin besar, dan saya akhirnya asik main salju sama mama, foto2 sana sini, tanpa ada khawatir ini kita sebenarnya posisi di tengah gunung, dan gak ada bayangan nantinya bakal kaya apa. Akhirnya bus datang, dan kita langsung masuk. Ada sekitar 5-6 orang lainnya yg menuju Takaragawa onsen juga, kita pikir pas low season nih ya, sepi. Perjalanan sekitar 30 menit dan ampun deh pemandangan bagus bangeeett!! Rute jalan itu menembus gunung, menanjak naik. Kanan kiri kita adalah lembah dan gunung, dan semua tertutup salju, super cantik!! Sampai di depan lobby onsen, saya perhatikan penumpang lain sudah pada pegang bus pass, laah. Pada beli dimana??? Usut punya usut, ternyata penjualan paketan bus Pass dan onsen dijualnya di Jomo Kogen, sudah tidak di minakami lagi. Mau gimana lagi, sudah terlanjur.

Untuk masuk takaragawa onsen kita harus bayar 1500¥/orang, dan kita juta sewa handuk besar dan kecil seharga 100¥. Masuk ke lobby yg ternyata merangkap sebagai toko souvenir dan area locker sepatu, kita disambut sama obasan yg baik hati dan murah senyum, meskipun ternyata rada susah diajak komunikasi. Sama beliau kita pun digiring menuju pintu keluar lobby melewati restoran, dan akhirnya keluar di area outdoor onsen. Berbekal peta petunjuk jalan, kita menuju Maya Bath, onsen outdoor khusus wanita. Jalan setapak menuju sana nyaris semuanya tertutup salju, bahkan di satu titik yg seharus kita tinggal terus, kita tidak bisa lewat karena full tertutup salju sampai setengah meter. Kita harus memutar melewati bagian mixed bath, dimana sudah ada beberapa bapak2 jepang bugil tanpa perduli menutup bagian privatenya hahaha. Mau bilang itu rejeki juga nggak ya, secara udah pada tua gitu. Sesampainya kita di Maya Bath, ternyata tidak ada orang lain lagi, kita hanya berdua, serasa private onsen jadinya. Sekitar 1,5 jam kita habiskan berendam di air hangat, nikmat sekali. Pengalaman yang unik juga, karena dari leher ke bawah kita berendam di air panas, leher ke atas kita terus dihujani salju.

Setelah puas, kita kembali berpakaian, dan berjalan kembali menuju lobby utama. Disitu sudah mulai khawatir, karena hujan saljunya deras sekali, jarak pandang juga pendek, dan semua jalan setapak sudah makin tebal tertutup salju. Badan, kaki, dan sepatu sudah tertutup salju dan harus berulang kali kita kebaskan. Sampai di area restoran kita pesan makanan sambil menunggu jadwal bus jam 14.52. Untung menunya pakai gambar, tidak akan salah dong? Tet tooot… salah banget. Saya yakin 100% jari ini menunjuk ke gambar udon hangat berisi sayuran, tapi apa yg kita terima di meja adalah cold soba dengan kuah dinginnya juga. Repot lagi ya kalau mau ganti, akhirnya saya cuma minta kuah soba nya dihangatkan. Cek suhu lagi, jeng jeng… sudah -10° sajaaaa.

Jam 14.52 tiba, belum ada tanda bus. Tumben nih telat…. kita dan beberapa orang lagi sudah berkumpul di area restoran. Lewat 10 menit, 20 menit, 30 menit, bus blm datang juga. Duh mulai khawatir kan, kalau tidak datang gimana? Melihat keluar itu sudah deras sekali saljunya, dan langit juga suram. Obasan baik hati itu cuma bolak balik nunduk dan sebut2 “bus” tanpa kita ngerti maksudnya apa. Akhirnya setelah 1 jam lebih, datang juga busnya, dalam kondisi tertutup salju, cukup buat ngeri membayangkan perjalanannya seperti apa. Dan benar saja, sepanjang perjalanan (yang seharusnya) 30 menit itu terasa seperti wahana thriller theme park. Bus berjalan pelan menembus hujan salju dan angin kencang, jalan berliku, melihat keluar jendela pun cuma seperti kabut, dan berkali2 harus berhenti karena kejatuhan longsoran salju dari sisi bukit. Akhirnya setelah perjalanan penuh deg2an selama kurang lebih 40 menit, sampai juga kita di minakami stasiun. Gak bisa senang dulu, krn masih harus mencari bus menuju jomo kogen. Supir bus yg kita naik berbaik hati mencari info dan memberi tahu kita, lane 4 in 21 minutes! 21 menit yang sangat lama, akhirnya bus yg kita tunggu datang, langsung lompat masuk. Yang bikin kita khawatir adalah tertinggal shinkansen balik ke tokyo. Tapi itulah hikmahnya membuat Itinerary dengan jarak waktu panjang, yg alhamdulillah kita sampai di Jomo Kogen persis 10 menit sebelum shinkansen berangkat. Tokyo, here we come!!

Sebenarnya sampai hari itu berakhir dan sampai besoknya pun saya gak terlalu ngeh dengan kondisi badai itu. Bahkan selama dalam perjalanan shinkansen berulang kali melihat pengumuman running text permintaan maaf atas delay shinkansen berbagai rute, masih gak mikir apa2. Baru setelah sepupu saya mengirimkan artikel dan pesan stay safe, baru saya tau kalau ternyata kemarin itu di sebagian jepang sedang terjadi badai salju yang bahkan sampai timbul korban meninggal 3 orang. Suhu di Tokyo drop sampai -2°. Ternyata kemarin itu kita cukup beruntung lolos dari kemungkinan terjebak di tengah gunung, alhamdulillah bus masih berjalan baik, shinkansen tidak kena delay, dan bisa kembali pulang ke indonesia pada tanggal 16 januari 2017.

Maafkeun kalau ceritanya panjang banget, intinya sih mau Share poin2 khusus bagi yg mau berkunjung ke onsen ini di musim dingin seperti saya.

1. Jadwal bus pagi dari minakami ke takaragawa onsen adalah jam 10.45 tepat, dan jadwal kembali dari onsen ke minakami adalah 14.52. That’s it, tidak ada jadwal lain. Kecuali tujuannya mau menginap, bisa ambil bus yang siang, direct juga. Tapi sepertinya ada layanan shuttle bus dari dan ke onsen ke halte bus terdekat, yg mana kalau jalan kaki itu sekitar 20 menit menurut web japan-guide.
2. Shinkansen max toki dicover full oleh Tokyo Wide Pass, jadwal seharinya juga cukup banyak, dan merupakan shinkansen yg sama menuju ke gala yuzawa. Harga belinya kalau tanpa Pass adalah 5700¥ one way, jadi 11.400¥ PP. Sangat dianjurkan pakai TWP yg hanya 10.000¥.
 3. Pastikan beli paket bus Pass dan tiket masuk onsen di JOMO KOGEN, biar tidak seperti saya. Biaya Pass itu 3.900¥, mengcover trip jomo kogen – minakami – onsen dan kembalinya. Kalau yg konon beli dari minakami itu adalah 2.900¥. Kalau bayar ketengan seperti saya, totalnya adalah 620¥ × 2 + 1.250 ¥ × 2 + 1.500 = 5.240¥. Rugi kaaann??? Itu ada selisih 1.340¥ udah bisa buat makan enak dan mewah. So please don’t make the same mistake as I did yaa. 
4. Pas sampai onsen, langsung simpan sepatu di loker lobby dan minta boot karet. Ini yg saya sayangkan karena miskomunikasi, saya tetap pakai sepatu boots saya jalan menuju dan balik dari kolamnya. Salju itu ibarat pacar posesif, lengket banget nempel di semua barang kita, terutama sepatu. Alhasil saya terjebak dengan sepatu boots basah kuyup, kaki udah mau beku rasanya, sampai akhirnya kaki saya bungkus plastik biar air dari boots basah gak basahin kaki saya. Dan sepatu basah itu yg saya pakai sampai balik di airbnb tokyo. 
5. Pastikan pakai boots anti air yaa… jangan sok gegayaan kaya saya pakai boots lucu. Anyep jadinya 😂😂😂
6. Bawa makanan sendiri, bisa beli di kombini sebelum naik shinkansen. Kita beli makanan 2 paket/orang. 1 untuk sarapan di shinkansen, 1 lagi kita makan sebelum berendam. Ternyata ya… Berendam air panas bikin laper lagi. Makanya kita pesen makan di restoran onsen sampai terjadi insiden soba dingin. 
7. Pastikan reserve dulu utk tiket shinkansen max toki nya, dan minta kursi di deck atas. Kalau kebagian di deck bawah, cuma kebagian liat beton rel kereta aja dan setengah pemandangan luar. Selain itu juga, untuk jadwal pulang keretanya penuh banget. Lebih baik prepare lebih dulu dengan reserve seat. 
8. Kalau mau merasakan winter di onsen ini, baiknya sekitar pertengahan desember – awal januari atau februari akhir. Masih dapat salju tebal, tapi gak keterlaluan kaya pertengahan januari ini. Mau foto2 juga pasti lebih nikmat. Cuma mungkin tidak sepi bgt kaya pengalaman saya.

Cukup sekian cerita saya, semoga gak bosen ya. Maafkan foto sekedarnya aja, krn pemandangan meskipun indah di mata, diterjemahkan ke foto itu monoton sekali hanya hitam putih.

Pictures gallery of Bagaimana Rasanya Terjebak Badai Salju?

  • q3
Advertisement
advertisement
Bagaimana Rasanya Terjebak Badai Salju? | Backpacker | 4.5