Backpacker Rame-Rame Goes To Taiwan Dan Hongkong

Thursday, February 28th, 2019 - Taiwan
Advertisement
advertisement

Menulis cerita perjalanan diluar Negri itu ternyata cukup memakan energi sendiri, dan kadang perlu emosi dan cerita yang menarik serta kesan mendalam, jika tidak maka akan menjadi garing tanpa makna. Maka saya mencoba menulis perjalanan kami. 
Singkat cerita, kami ber 8 orang berangkat ke Taiwan, berbekal tiket promo Cathay Pacific (CX), dan ada rencana keluar Hongkong selama 4 hari saat transit perjalanan pulang. Selanjtnya kami melakukan pengurusan Visa, dan kena biaya 500 ribu perorang dengan persyaratan – Paspor asli (Masa berlaku diatas 6 bulan), Foto berwarna ukuran 4×6, dengan latar belakang putih (2 lembar), Surat sponsor / keterangan kerja dari kantor dan Fotocopy bukti keuangan (3 bulan terakhir), lain-lain jika kurang daan diminta bisa disusulkan. 
Jika sudah pernah punya Visa Amerika, Canada, Schengen, Aussy, Jepang, Korea dan Taiwan bisa langsung ajukan secara online di https://niaspeedy.immigration.gov.tw/nia_southeast/ dalam hitungan menit langsung dapat dan gratis (Jika tanpa catatan blacklist tentunya.).

Kami berangkat tanggal 3 Juni 2018 lalu, kebetulan mama saya ikut dan minta Kursi Roda karena sudah tidak kuat jalan, dan ini adalah pengalaman pertama, jika minta kursi roda, sebaiknya sudah dilakukan saat pemesanan tiket pesawat, supaya tidak ada pertanyaan dan perlu bukti bahwa penumpang tersebut memang perlu kursi roda. (Mama saya terpaksa maju ke Counter check-in karena lupa memesan kursi roda). Hal lain lagi, siapkan uang kecil sekitar 20 ribu (Ikhlas saja) untuk tips petugas yang mendorong Kursi roda tersebut, terutama untuk Indonesia dan Hongkong (kadang ambil kadang menolak,), Untuk Taiwan mereka selalu menolak. Taiwan menggunakan mata uang NTD (National Taiwan Dollar), 1 NTD = Rp. 450,- 
Jika dirombongan ada yang naik kursi roda, ada manfaat tidak akan tertinggal pesawat saat transit dan pindah pesawat, walau waktu transit yang mepet sekalipun, kita juga bisa ikut sebanyak 2 orang pendamping kursi roda dan pemeriksaanpun tidak terlalu ketat dan hampir tidak kena random check. Penumpang kursi roda selalu masuk pesawat duluan, sehingga koper cabin bisa dibawa duluan. Total biaya keseluruhan (Termasuk makan dan belanja) untuk 9 orang adalah Rp. 135 juta rupiah untuk 12 hari 10 malam, di 3 negara, artinya perorang sebesar 15 juta Rupiah saja. 
4 juni pukul 10:00 Waktu Taiwan, kami tiba di Bandara Taoyuan dan setelah lewat imigrasi, kami menukar voucher pembelian kartu Wifi Rp. 300 ribu melalui KLOOK.com (Sebaiknya pilih provider yang terkenal, lebih mahal tetapi koneksi oke). langsung minta aktivasi oleh petugas Counter (Umumnya mereka bisa bahasa Inggris), jika tidak akan pusing dengan huruf-huruf Kanji itu, lalu dimasukkan dalam router mobile yang kami bawa dari Jakarta, setelah HP terkoneksi semua, baru bisa komunikasi dengan anak saya yang bertugas menyewa Mobil Hyundai H1 (3.500 NTD/hari) langsung bergabung dengan rombongan, Mobil ini bisa angkut 9 penumpang plus 8 koper medium tanpa berdesakan, kami berkendara di Taiwan dengan posisi stir Kiri sangat tergantung sama Google map atau Waze, jika tidak, tentu akan sering kena tilang dan nyasar, selain itu jangan takut menabrak, karena hampir semua tertib membawa mobil, kecuali malam suka ada yang mabuk.
Bandara Taoyuan – Sun moon lake sebagai tujuan pertama, menempuh perjalanan 3 jam melalui toll yang sepi, lancar jaya dan pengemudi sangat taat aturan kecepatan jika tidak ingin ditilang akibat terekam oleh kamera pengawas kecepatan (oh ya, sewa mobil selalu ada deposit dana 5.000 – 10.000 NT$, untuk menjaga jika ada denda tilang), begitu tiba kami makan siang, lalu lanjut mengelilingi lokasi kaki bukit Sun-Moon yang bersih dan aman, ada danau yang besar ditengah, cuaca cukup dingin dan sering kali turun hujan. Masuk lokasi Sun Moon Lake tidak bayar alias gratis termasuk parkir dan buang air. Kecuali naik cable car bayar per orang 300NT$/orang. 
Saat pulang, kami sempat mampir lagi ke Vihara Budha yang besar, saya lupa namanya, dan disitu bisa numpang mandi atau buang air. Setelah puas, baru lanjut turun mencari makan malam dan menuju hotel di Chiayi yang sudah kami booking melalui Air BnB, murah dan bersih. Jika membawa mobil di Taiwan, sebaiknya cari penginapan atau hotel yang ada fasilitas parkir, jika tidak akan ada biaya extra, karena banyak juga penginapan yang tidak menyediakan lahan parkir. 
Chiayi – Alishan (Gunung Ali) 
Kami Check-out dan lanjut perjalanan ke Alishan setelah makan pagi, Masuk ke Lokasi ini harus bayar 280NTD/orang, karena merupakan lahan konservasi hutan di Taiwan, lokasinya lumayan jauh perjalanan 4 jam menanjak, dalam hal ini Hyundai H1 Diesel ini memang oke banget, tetap bisa ngebut kecepatan 60 – 80 KM/jam. 
Banyak hal menarik di Alishan, hutan yang tertata rapi, serta makanan yang enak-enak, termasuk daging rusa dan bebeknya (hasil ternak), harganya cukup masuk akal, hampir sama dengan restoran di Jakarta. Hampir semua makanan yang ada tidak mengikuti kaidah halal agama Islam, jadi kami juga tidak mencari lebih jauh, hanya saja untuk toilet ada yang menarik, jika ada tulisan “Muslim Friendly” artinya tersedia Shower, jika tidak hanya kertas tissue saja, jadi ada baiknya bawa sendiri air dalam botol aqua. 
Sebagai catatan kecil dan penting bagi Petualang Indonesia yang hendak ke Taiwan, sebaiuknya bawa cabai kering atau sambal sendiri, karena semua resto di Taiwan tidak disediakan Sambal atau cabe. Mungkin itu sebabnya orang-orang Taiwan pada sabar dan baik ya, hehehehhee… 
Di AliShan cuaca termasuk dingin, berkisar 5 – 10 derajat, suasana hutan sangat terasa dan dijaga betul, hingga ada pohon yang berusia 2.500 tahun, ada vihara, ada hotel dan museum kayu dan juga masih ada kereta uap yang kita bisa naik dengan membayar 100 NTD/orang. Semua masih sangat terawat dengan baik. Jadi akan rugi kalau ke Taiwan tetapi tidak mengunjungi AliShan. 
Pulang dari AliShan kami langsung ke kota HengCun dan menginap semalam. 
Di Kota Hengchgun, kami ke National Museum of Marine Biology & Aquarium, sebuah Aquarium yang luar biasa bagus dan cukup lengkap untuk ikan-ikan laut, besar dan menjadi pusat penelitian Taiwan untuk biota laut, masuk kesini bayar 350 NTD/orang. 
Dari Marine Museum & Aquarium, kami ke Pantai di Hengchun ini, pantainya bersih dan terjaga dengan baik, ombaknya besar sehingga dilarang untuk berenang. Tidak ada pedagang kaki5 atau tukang parkir yang iseng, apalagi preman. Malam hari bisa menikmati Night Market seperti pedagang kaki lima yang ramai tetapi tertib, aman dan bersih. Kalau di Indonesia seperti pasar malam. 
Taroko National Park, adalah bukit pualam yang wajib dikunjungi, ada Vihara Budha yang puncak bukit, terlihat tinggi menjulang, suasana disini dingin tetapi kering, enak untuk mencari inspirasi. 
Selanjutnya adalah Taipei, kami ke 101 (Ie Ling Ie) Tower, merupakan gedung kebanggaan Taiwan, menjadi pusat acara kembang api setiap tahun dan juga tempat warag Indonesia berkumpul saat Idul Fitri, jika tidak bisa pulang. Didalam ruangan atas gedung 101 ini ada tempat jualan batu permata yang harganya ratusan juta hingga 
Sempatkan diri juga ke Chang Kai Sek museum dan Dr. Sun Yat Sen Building. Hati-hati dengan bahasa disini, karena mereka menggunakan bahasa kanji yang menggunakan huruf Chinnese Traditional ebih complex dibandingkan Beijing, dan 90% penduduknya tidak bisa bahasa asing, jadi kalau jalan-jalan berombongan, ada baiknya ditemani oleh guide yang bisa berbahasa Indonesia, ada banyak yang mau menemani, terutama para pelajar-pelajar kita. Karena petunjuk jalan semua dalam bahasa Kanji.

Ada banyak tempat lain yang belum sempat kami kunjungi, tetapi menarik untuk didatangi kembali, yang mana Taiwan adalah negara yang paling banyak menyerap tenaga kerja dari Indonesia, mulai dari blue-collar hingga white collar. (Setelah ini saya akan cerita perjalanan ke Hongkong.)

Pictures gallery of Backpacker Rame-Rame Goes To Taiwan Dan Hongkong

  • e
Advertisement
advertisement
Backpacker Rame-Rame Goes To Taiwan Dan Hongkong | Backpacker | 4.5