Backpacker Italy, Swiss dan Balkan

Monday, January 27th, 2020 - Italia
Advertisement
advertisement
Waterfall nijagara

28. Kadang2 saya bertanya apa sebenarnya tujuan orang traveling. Kalau hanya sekedar melihat keindahan alam, memang ada keindahan alam luar negeri yg tdk bisa kita temui di negeri kita. Misalnya pemandangan di swiss dan sarajevo yg sedang ditutup salju. Itu jelas sangat indah di mata kita sebagai orang tropis. Tapi kalau salju itu dihilangkan dan tinggallah sungai, lembah dan gunung, saya kira pemandangan alam minangkabau di kaki bukit barisan malah lebih indah lagi atau minimal sama.

Itulah yg saya alami di montenegro ini. Saya mengubah rencana awal dari menginap semalam di podgorica ibu kota montenegro menjadi menginap dua malam di tirana albania. Podgorica akan dieksplor tanpa menginap. Jadi saya mencari jadual bus yg sampai di podgorica jam 02.30 pagi dan berangkat lagi ke tirana jam 13 siangnya.

Seperti yg sudah diceritakan dalam posting sebelumnya, kami menginap beberapa jam di sebuah hostel murah seharga 11 euro sambil menunggu pagi. Jam 8 kami sudah cek out tapi koper masih dititip dulu utk diambil lagi nanti jam 11.30.

Rencana awal hanya sekedar melihat2 saja kota podgorica. Tapi kalau pakai cara konvensional saya yakni cek peta, jalan kaki, cari2 jalur trem, subway atau bus maka akan banyak waktu yg terbuang. Belum lagi waktu utk celingak celinguknya seperti orang kampung masuk kota. Waktu tiga jam yg tersedia hanya akan habis utk cek map dan mencari rute angkutan umum saja. Karena itu saya akan mencari travel agent saja, mungkin ada paket tur 3 jam yg bisa diambil. Atau sewa taksi saja, tanya berapa biaya borongan 3 jam.

Kafe di waterfall nijagara

Tidak ada yg tahu di mana travel agent saat saya tanyakan pada bagian informasi di terminal bus. Akhirnya daripada buang2 waktu saya menemui saja taksi yg mangkal di depan bus station . Saya tanyakan berapa kira2 saya bayar utk rental 2-3 jam. Kelihatannya dia tdk bisa dg sistem borongan. Dia mengatakan yg mahal adalah waktu menunggu. Jadi tetap dg cara biasa yakni melihat argo. Saya tanyakan berapa kira2. Katanya sekitar 25 euro seraya menyebutkan tempat2 yg akan dikunjungi.

Menurut saya 25 euro cukup make senselah daripada saya harus mencari2 rute public transportation sendiri. Namun kelihatannya ada salah komunikasi di sini. Mungkin yg dia maksud sekitar 25 euro hanya utk seputar podgorica saja. Padahal dari hasil searching internet, lokasi2 yg menarik justru di luar kota seperti nijagara water fall dan skadar lake. Karena itu setelah selesai dg objek2 di dalam kota dan kami sampai di air terjun, argo sudah jauh melampaui perkiraan awal. Apalagi setelah sampai di skadar lake dan kemudian balik ke podgorica lagi, angka argo sudah porak poranda berlipat kali dari perkiraan awal tadi.

Kejadian inilah yg membuat saya bertanya di awal paragraf, sebenarnya apa yg dicari orang dg traveling. Kalau bicara destinasi montenegro ini maka biaya yg saya keluarkan sungguh tidak imbang dg pemandangan yg saya dapat. Di dalam kota kami hanya melihat jembatan milennial, bangunan peninggalan ottoman, the oldest orthodox church dan the biggest cathedral. Di luar kota hanya melihat air terjun dan danau saja.

Rumah Petani

Sopir taksi sangat mendorong saya utk masuk katedral karena katanya very nice. Tapi karena saya sdh banyak melihat katedral besar dan indah lainnya di paris, wina, florence, roma, milan dan kota2 lain yg saya tdk hafal lagi maka katedral ini tergolong biasa2 saja. Begitu juga niagara waterfall. Ini adalah pemandangan terbaik di montenegro seperti kata driver. Memang cukup indah, tapi ya tdk spektakuler sekali.

Kalau hanya sekedar melihat pemandangan maka saya menyesal mengeluarkan biaya begitu besar utk montenegro ini. Tapi andai saya tdk menjelajah montenegro dan hanya keluyuran sekitar terminal bus sekuat kaki melangkah maka akan timbul pertanyaan juga. Sudah susah payah menjelajah italy, swiss dan balkan dg pengorbanan fisik, biaya dan waktu yg sangat besar, masa sudah sampai di podgorica namun tidak tahu apa2 tentang montenegro. Lebih absurd lagikan dibanding mengeluarkan biaya yg besar utk sewa taksi.

Jadi sebenarnya tdk ada penyesalan. Bagi saya pribadi tujuan traveling tidak hanya sekedar melihat pemandangan. Melihat pemandangan memang utama, tapi pengalaman dan romatika suka duka selama traveling jauh lebih utama lagi. Itu adalah point of view saya pribadi. Karena itu mohon dimaklumi jika catatan traveling saya agak berbeda dg orang lain. Orang lain mungkin lebih banyak menulis dan mengulas tempat2 wisata yg dikunjungi sedangkan saya sangat sedikit mengulasnya. Saya lebih tertarik utk reportase apa yg saya rasakan dan apa yg saya alami saja dibanding cerita tempat wisata.

Cerita tentang tempat wisata mudah kita temukan dg googling. Tapi pengalaman, romantika dan suka duka backpacker mungkin belum banyak disharing orang. Dan saya memilih yg kedua ini, sharing apa yg saya rasakan dan lakukan.

Namun demikian saya akan menyampaikan juga sedikit tentang montenegro yg saya lihat. Pertama kotanya kecil sekali tanpa ada gedung pencakar langit. Trem dan subway kereta bawah tanah tidak ada. Di luar kota saya melihat rumah2 dg halaman yg sangat luas dan berjarak jauh dg rumah yg lain. Ada juga rumah2 petani di tengah2 ladang luas juga sehingga jarak antar rumah menjadi lebih jauh lagi.

Dalam perjalanan ke tirana saya melihat hamparan lahan pertanian dg latar belakang gunung2 batu. Gunung2 batunya sama seperti kita lihat dalam perjalanan makkah-madinah. Cuma bedanya di jalur makkah-madinah tdk ada hamparan lahan pertaniannya.

Katedral podgorica

Cuaca di sini sangat cerah. Langit biru bersih. Matahari bersinar terik sehingga musim dingin terasa hangat di bawah sinar matahari. Sangat kontras dg swiss yg terus berkabut dan hampir selalu hujan gerimis. Beda juga dg sarajevo yg walau juga cerah tapi dinginnya sungguh menggigit. Hanya itulah kesan yg bisa saya sampaikan tentang montenegro.

Pictures gallery of Backpacker Italy, Swiss dan Balkan

Advertisement
advertisement
Backpacker Italy, Swiss dan Balkan | Noval Backpacker | 4.5