Al-quds Memanggilmu

Friday, March 1st, 2019 - Uncategorized
Advertisement
advertisement

Setelah beberapa orang dari rombongan kami telah usai di X-Ray terakhir. Kami pun bersiap untuk lanjut ke loket imigrasi, berhadapan dengan petugas imigrasi yang tak ada senyum sedikitpun. Jantung belum berhenti berdegup kencang diselingi komat-kamit dzikir penenang hati.

Saya telah mengunjungi beberapa negara dengan tipe imigrasi yang berbeda-beda dengan drama yang berbeda-beda pula. Tapi kali ini lain. Dentumannya gak karuan, gak beraturan. Selalu teringat beberapa blog yang saya baca dari beberapa traveler yang tidak diizinkan masuk dengan berbagai alasan.

“Teman-teman, kita harus menunggu dulu karena dua orang lagi masih tertahan dan harus discanning di ruangan khusus. Jadi mohon bersabar.” Celoteh Tour Leader kami.

1 jam belum keluar juga, 2 jam, 3 jam belum keluar juga. “Ada apa dengan mereka??” Celoteh salah satu teman kami. Seperti itulah border Israel. Kita hanya mampu bersabar dengan segala ujiannya. Lolos atau tidak itu sudah keputusan mereka. Hanya mampu berdoa dan bersabar. Hampir 4 jam, mereka berduapun keluar sembari melemparkan sisa senyum ke kami. Disusul 2 wanita Israel.

Setelah semua rombongan berkumpul, kita diminta untuk antre lagi di loket imigrasi dan 2 loket pengecekan lainnya. Mereka telah menyiapkan selembar kertas kecil, sebesar tiket parkir. Kertas inilah yang dicap dengan stempel imigrasi Israel dan jangan sampai hilang selama ada di negara tersebut.

Israel adalah negara yang tidak ada hubungan diplomatik dengan Indonesia, sehingga passport tidak bisa dicap dengan stempel imigrasi mereka. Tapi tak kurang siasat, karena mereka mau mengumpulkan devisanya jadilah dibuat kertas kecil itu sebagai penggantinya.

Dramanya belum selesai sampai disitu. Kami dapat kabar bahwa bus yang akan kami pakai selama beberapa hari di Palestina masuk bengkel dan tidak bisa menjemput kami tepat waktu. Bus penggantinya mungkin tiba di border Israel sekitar 3 jam lagi. Itin kami jadi berantakan yang harusnya makan siang di kota Jericho sekaligus shalat Dhuhur dan Ashar disana.
“Allahumma yassir wa laa tu’assir”
“Yaa Allah mudahkanlah dan jangan Engkau persulit”

Alhamdulilah setelah 3 jam menunggu dan kami sudah menunggu di luar border. Bus pun sudah menunggu di ujung jalan sekitar 100m karena bus tidak diperbolehkan masuk area border dan tour guide tidak diperkenankan juga untuk masuk, hanya bisa menunggu diperbatasan border Israel. Hati gak karuan. Ingin segera keluar dari tempat ini. Saya sempat ingin mengabadikan border Israel dari luar sebagai bahan tulisan tapi teringat wejangan dari teman bahwa selama di border Israel haram jepret sana sini apalagi jepret tentara Israelnya πŸ˜πŸ˜¬

Dari border Israel ke Yerusalem (Baitul Maqdis) membutuhkan waktu yang cukup lama. Mungkin sekitar 4-5 jam.

Kain berwarna putih dengan dua garis horisontal berwarna biru di tepi atas dan bawah, di tengahnya terdapat gambar ‘bintang daud’ melambai-lambai sepanjang perjalanan.

Jujur, sebenarnya saya malas melihat bendera dan memerhatikan negara ini. Tapi saya penasaran. Sesekali mengabadikan kota ini. Indah. Ramai. Saya perhatikan kota ini sangat sejahtera. Terlihat dari tatanan kota. Pabrik dan mata pencaharian lainnya. Mobil berkelaspun ada dimana-mana bahkan menumpuk tak terpakai. Entah sudah rusak atau gimana. Kelihatannya masih bagus.

Di kejauhan terlihat Dead Sea, Laut Mati. Tempat dimana umat Nabi Luth ditenggelamkan.

Bus terus bergerak hingga tiba di kota Jericho. Kota Jericho adalah ibukota administratif Palestina untuk sementara ini. Kota ini pernah menjadi kota tertua di dunia yang masih terus ditinggali manusia, sebelum akhirnya tergantikan dengan ditemukannya kota Gaziantep di Turki.

Selama perjalanan saya memutar kembali buku bacaan yang pernah saya baca dulu tentang Palestina. Tentang Rasulullah mi’raj untuk menjemput perintah shalat. Kisah kepahlawanan Salahuddin Al Ayyubi membebaskan Yerusalem dan kisah nabi lainnya.

Sejak itu, saya selalu bermimpi agar suatu saat, saya bisa shalat di Masjidil Aqso. Berada di lokasi kiblat pertama umat muslim selama kurang lebih 17 bulan. Sangat rindu…

Kami meninggalkan kota Jericho melanjutkan ke Yerusalem, dari kejauhan terlihat kibaran bendera yang sudah sangat saya hapal.
Hitam-putih-hijau-merah. Bendera Palestina! Allahu Akbar!!!

Kami pun tiba di tempat kami akan menginap selama di Yerusalem. Turun dari bus, menghirup udara malam dingin Palestina, tetiba mata saya berkaca-kaca. Ah, rasanya masih tak percaya, saya benar-benar berada di atas tanah yang basah dengan darah para syuhada ini.

Hati saya berdegub kencang, lelah yang menumpuk seakan hilang seketika. Tak sabar ingin sujud dan mendengar adzan dari Masjidil Aqsa. Guide pun menyarankan kami untuk segera istirahat dan melepas lelah sejenak karena agenda ke Masjidil Aqsa dilakukan besok shubuh. Shalat tahajjud dan shubuh di Masjidil Aqsa.

Al-Quds, Al-Quds terus memanggil….

Bersambung…

Pictures gallery of Al-quds Memanggilmu

  • z1
Advertisement
advertisement
Al-quds Memanggilmu | Backpacker | 4.5