3 Days In Manila (Liburan Murah, Rp.2 juta, All-in)

Tuesday, March 5th, 2019 - Uncategorized
Advertisement
advertisement

Belum lama ini, tepatnya 18-20 Januari 2019 yang lalu, saya melakukan solo travelling ke Manila, Philippines. Trip kali ini merupakan pertama kalinya saya menginjakkan kaki saya di Philippines. Saya mengandalkan informasi dari travel vlog & travel blog, informasi dari group BI serta mbah google & google map sebagai panduan perjalanan saya.

Why Philippines ? Why Manila ? Ketika mendengar kata Manila, Philippines, sebagian besar orang yang pernah kesana akan mengatakan “Ngapain ke Manila ? Kotanya ngga jauh beda dengan Jakarta, malah lebih parah, ngga banyak objek wisata menarik yang bisa dilihat, kotanya kumuh, semrawut, macet dan transportasi umumnya juga kurang bersahabat”. Jawabannya sederhana saja, saya belum pernah kesana (ini merupakan negara ke-4 di ASEAN yang saya kunjungi setelah Singapore, Malaysia & Thailand), kebetulan dapat tiket promo cebu pacific airlines Jakarta-Manila pp seharga Rp.1 juta (normalnya tiket one way cebu pacific Jakarta-manila aja lebih dari Rp.1juta, naik airasia pas lg promo pun sekitar Rp.800rb one way, kalo naik Philippines Airlines & Garuda Indonesia lebih mahal lagi), saya memang sudah lama ingin ke Philippines sejak nonton film “My Bestfriend’s Girlfriend”-nya Marian Rivera (lumayan tau juga beberapa pinoy celebrity), kebetulan juga penggemar basket & lumayan sering nonton tim basket-nya Philippines di youtube, serta sebagai penganut agama katholik, ada keingintahuan juga seperti apa negara dengan mayoritas katholik terbesar di ASEAN.

Berikut itinerary perjalanan saya :

DAY 1

Flight dari Soekarno-Hatta International Airport Terminal 2, depart pukul 00.45 dini hari, perjalanan kurang lebih 3 jam 15 menit, sampai di Ninoy Aquino International Airport (NAIA) terminal 3 pukul 5 pagi (waktu di Manila 1 jam lebih cepat dari Jakarta), keluar dari imigrasi sekitar jam 5.30, saya langsung bergegas ke Money Changer, untuk menukarkan USD ke PHP (ternyata money changer baru buka jam 6 pagi, tadinya kepikiran mau ambil uang di ATM saja, tapi saya batalkan, karena hari masih pagi, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruang tunggu sambil menunggu money changer buka), saya menukarkan uang USD 100 (kurs PHP 52 per 1 USD), lalu saya segera keluar bandara untuk mencari Airport Loop Bus. Oh, ya. Saya tidak membeli simcard di airport karena berdasarkan informasi dari teman2 di group BI, simcard di airport harganya mahal (PHP 600 untuk simcard-nya + PHP 100 untuk paket datanya, sekitar Rp.190rb), kebetulan karena ngga mau ribet, saya juga sudah mengaktifkan XL Pass 3 days activation dari Indonesia seharga Rp.150rb (kebetulan sisa kuota internet saya juga masih banyak), tapi, apesnya, saya salah perhitungan, saya pikir aktivasi XL pass terhitung setelah kita sampai di negara tujuan, ternyata dihitung sejak diaktifkan di Indonesia, dan saya mengaktifkannya tgl 17 januari malam, jadi terhitung sudah pakai 1 hari (tinggal sisa 2 hari lagi), harusnya saya aktifkan tgl 18 pagi dini hari tepat sebelum pesawat depart dari Jakarta. Aduh, mau ngirit dikit, malah jd rugi nih pikirku saat itu (saya pada akhirnya beli simcard Globe di dekat hostel, seharga PHP 100 untuk simcard-nya + PHP 100 untuk paket datanya, kurang lebih seharga Rp.50rb).

Tips : kalau sekiranya bisa survive tanpa internet dari airport ke kota, sebaiknya beli simcard di kota saja, jauh lebih murah daripada beli di airport. Saya lihat di Terminal Bus EDSA Taft Avenue di daerah Pasay, tempat tujuan akhir Airport Loop Bus, ada yang jual simcard.

Dari NAIA, saya naik Airport Loop Bus menuju Terminal Bus EDSA Taft Avenue. Cara menemukan airport loop bus di airport sangat lah mudah jika kebetulan landing di Terminal 3 NAIA (Cebu Pacific landing di terminal ini), begitu menuju pintu keluar bandara (dekat dengan lokasi money changer berada), akan langsung terlihat deretan bus berwarna putih dengan tulisan Airport Loop (Airport Loop Bus ini juga bisa digunakan jika ingin transfer ke Terminal 1 & 2 ataupun Terminal 4 untuk domestic flight), cukup tanyakan ke petugasnya, mana bus untuk rute Pasay Rotanda. Tarif Airport Loop Bus sangatlah murah, hanya PHP 20, sekitar Rp.5400 (uang akan ditagih kondektur di dalam bus, dan akan diberikan selembar tiket). FYI, sebagai perbandingan, tarif Grab Car dari NAIA T3 ke Terminal Bus EDSA Taft Avenue sekitar PHP 250 (Rp.67rb). Kalau anda hanya bawa backpack saja, lebih baik naik Airport Loop Bus saja (jika barang bawaannya banyak, saya lebih menyarankan naik Grab Car / taksi). Perjalanan kurang lebih 30 menit. Di sepanjang perjalanan menuju Pasay, kita disuguhi pemandangan Manila yang semrawut, terkesan kumuh & kadar polusi udara yang tinggi.

Sampai di Terminal Bus EDSA Taft Avenue sekitar jam 7 pagi, karena tujuan saya pagi itu mau ke Rizal Park + Intramuros, maka saya bergegas ke LRT Station EDSA. Dari McD di depan Terminal Bus EDSA Taft Avenue, ada jembatan penyeberangan menuju ke stasiun MRT (menuju Ayala & sekitarnya) dan stasiun LRT-1 (menuju UN Station tempat Rizal Park berada), karena tidak ada papan penunjuknya, perlu diketahui bahwa yang pertama dijumpai jika kita naik JPO dari McD adalah antrian menuju ke stasiun MRT (berada di sisi kanan JPO), jika ingin ke stasiun LRT, teruslah berjalan di sisi kiri JPO, lalu belok kiri ke stasiun LRT). Sesampainya di stasiun LRT, saya pun memilih membeli Beep Card (karena dari info member di group BI, antrian pembelian single ticket untuk lumayan cukup panjang, jadi akan sangat merepotkan jika harus mengantri beli tiket setiap mau naik LRT/MRT), kebetulan Beep Card bisa dipakai baik untuk LRT, MRT maupun BGC Bus. Harga Beep Card hanya PHP 20, langsung saya top-up sebanyak PHP 80 (total keluar uang PHP 100, sekitar Rp 27rb). Tarif LRT cukup murah, dari EDSA station ke UN station kena tarif PHP 20, sekitar Rp.5400. Pagi itu meskipun berbarengan dengan jam masuk kerja, situasi di dalam gerbong LRT masih cukup lenggang (setidaknya saya masih dapat tempat duduk saat itu). Perjalanan dari EDSA station ke UN Station.

Tips : jika kebetulan barang bawaan anda banyak, sebaiknya hindari menggunakan transportasi umum (MRT, LRT). LRT/MRT di Philippines sudah cukup lama dari tahun 90-an. Stasiun MRT/LRT rata-rata masih menggunakan tangga konvensional, sempat nemu escalator di MRT Station Ayala, tapi tidak berfungsi. Selain itu, setiap kali masuk stasiun, selalu ada pemeriksaan X-ray untuk barang bawaan anda. Antrian LRT//MRT bisa sangat panjang (terutama MRT dari EDSA menuju ke Ayala), kondis penumpang di dalam LRT/MRT bisa sangat berdesak-desakan (layaknya naik KRL Jabodetabek pas jam masuk/pulang kerja) untuk rute MRT dari EDSA ke Ayala, maupun LRT dari UN Station ke EDSA. Untuk rute arah sebaliknya bisa dibilang lumayan lenggang.

Sampai di UN Station, saya lalu menyebrang jalan, kemudian berjalan kaki ke Rizal Park. Suasana Rizal Park pagi itu lumayan ramai, ada beberapa warga local yang sedang jogging, ada beberapa gelandangan/pemulung yang sedang beristirahat disana, ada juga turis mancanegara. Masuk kompleks Rizal Park free entrance. Di kompleks Rizal Park terdapat Relief Map of the Philippines Island (sebuah kolam yang di dalamnya dibuat replika pulau-pulau di Philippines), Statue of the Sentinel Freedom, National Museum of National History & National Museum of Anthropology (kedua museum ini free entrance, sayangnya baru buka jam 10 pagi + ada larangan membawa backpack/carrier. Jadilah saya hanya berfoto di depan gedungnya), Japanese Garden (Free Entrance, hanya perlu mengisi buku tamu saja, tidak terlalu special sebenarnya, tapi karena gratis, tidak ada salahnya buat dikunjungi), Chinese Garden (Free Entrance, hanya perlu mengisi buku tamu saja, tempatnya jauh lebih bagus dibandingkan Japanese Garden), Rizal Park Dancing Fountain, National Planetarium, Rizal Martyrdom Place (bayar donasi PHP 10 kalo mau masuk sini), & Rizal Monument (lumayan banyak turis yang antri buat foto di depan monument ini). Di seberang jalan dari Rizal Park, terdapat kilometer zero dimana Memorial Park berada.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, saya melanjutkan perjalanan ke Intramuros dengan berjalan kaki.ke arah Intramuros. Kawasan Intramuros meskipun banyak bangunan lama peninggalan spanyol, tapi tergolong jauh lebih bersih dan rapi dibandingkan daerah Pasay. Tepat sebelum memasuki gerbang Intramuros yang terkenal itu, terdapat Revellin dela Puerta Real de Pagumbayan (one of the old gates of Intramuros), free entrance, hanya mengisi buku tamu.
Jika berjalan lurus dari pintu gerbang Intramuros, objek wisata yang pertama kali ditemui adalah Casa Manila (entrance fee PHP 50, sekitar Rp.13rb) dan di-depannya terdapat San Agustin Church, gereja ini memiliki interior yang sangat cantik, bisa dibilang gereja tercantik yang pernah saya kunjungi selama hidup saya (sayang sekali saat itu sedang ada sakramen perkawinan di gereja tersebut, sehingga saya tidak bisa masuk ke dalam gereja , takut mengganggu acara ibadat), hanya bisa melihat interior gereja dari pintu depan saja. Di San Agustin Church, terdapat San Agustin Museum (entrance fee, PHP 200, sekitar Rp.54rb), di depan gereja ada penjual es krim, karena dari pagi belum mengisi perut, saya pun membeli es krim cone seharga PHP 20 (Rp.5400) dan burger es krim seharga PHP 30 (Rp.8100), surprisingly, enak sekali es krimnya (ada mixed 3 rasa), sangat worth it sesuai dengan harganya, cukup mengenyangkan.

Tidak jauh dari San Agustin Church (sekitar 5 menit jalan kaki), terdapat Manila Cathedral (The Minor Basilica and Metropolitan Cathedral of the Immaculate Conception). Gereja ini cukup megah (dari luar terlihat lebih megah dari San Agustin Church dan juga lebih ramai pengunjungnya), saat memasuki gereja-nya, saya merasa bahwa meskipun terlihat megah, tapi interiornya masih kalah cantik dari San Agustin Church).

Selanjutnya, saya berjalan kaki ke Fort Santiago (5-10 menit perjalanan dari Manila Cathedral), entrance fee-nya seharga PHP 75 (Rp.20rb), menurut saya sangat worth it dikunjungi. Di dalam Fort Santiago, terdapat Plaza de Amas, Spanish Barrack Ruins, Jose Rizal Museum, Rajah Sulayman Theatre, Memorial Cross, The Dungeons, Rizaliana Furniture Hall, Postiga De La Nuestra Senora Del Soledad (bisa melihat pemandangan Pasig River dari sini).

Setelah lelah berkeliling Intramuros, dan waktu sudah menunjukkan pukul 1.30 siang, saya pun kembali ke UN LRT Station, untuk naik LRT menuju Pasay (siang itu gerbong kereta cukup padat). Sampai di EDSA LRT Station sekitar pukul 2.30 siang, saya pun menuju ke EDSA MRT Station, tapi cukup surprise dengan antrian masuk MRT station yang cukup panjang. Saya pun memutuskan untuk naik grab menuju hostel saya di LubD Makati (cabangnya LubD Thailand di Philippines), kena charge PHP 225 (Rp.61rb), perjalanan dari Pasay menuju Makati memakan waktu hampir 1 jam, kondisi traffic di Manila lumayan parah macetnya.

Sampai di hostel sekitar jam 4 sore (saya booking penginapan via traveloka, seharga Rp.150rb/malam, without breakfast). Fasilitas di hostel tersebut cukup ok menurut saya (review-nya pun cukup bagus), tarif-nya pun sangat worth it, mengingat hostel tersebut terletak di daerah Makati yang termasuk kawasan CBD di Manila. Keputusan untuk memilih stay di daerah Makati merupakan keputusan tepat menurut saya. Lokasinya sangat strategis, mau cari apa saja mudah (banyak resto, minimarket, klub malam), bahkan salah satu jalan di daerah makati merupakan kawasan red district di Manila sewaktu malam hari. Kondisi jalanan di kawasan Makati jauh lebih rapi & teratur dibandingkan wilayah lain di Manila, tingkat polusinya pun lumayan rendah. Kalau mau shopping, tinggal jalan kaki ke daerah Ayala.

Karena sudah lapar, seharian belum makan, sore harinya saya keluar jalan-jalan keliling Makati untuk beli simcard sekalian cari makan. Saya pun mencoba makan di Jollibee untuk pertama kalinya, porsi makan di Jollibee sangat murah, untuk porsi nasi ayam, french fries & soft drink hanya seharga Rp.28rb. Setelah itu, hampir setiap kali cari makan, saya selalu mampir ke Jollibee. Karena fast food restaurant di Philippines tidak menyediakan chilli sauces, saya selalu memesan spicy chicken. Oh ya, Filipino terbiasa makan dengan sendok garpu, saya pun mengikuti gaya mereka makan nasi ayam dengan sendok garpu. Malam harinya saya memutuskan untuk istirahat di hostel saja.

DAY 2

Pagi harinya, saya sarapan pagi di Jollibee, lalu berjalan kaki ke Ayala, disana terdapat Ayala Triangle Garden, semacam taman untuk bersantai & bermain (free entrance), kemudian keliling shopping Mall di Ayala. Salah satu mall yang menarik perhatian saya adalah Greenbelt Park Mall, konsepnya adalah beberapa mall di 1 kawasan yang sama (mirip seperti Tunjungan Plaza di Surabaya), dan ditengah-tengahnya terdapat Greenbelt Park, sebuah taman yang cukup luas. Saat berada di Greenbelt Park, sedikit mengingatkan saya dengan Tribeca Park di Central Park Mall. Di Greenbelt Mall, terdapat Ayala Museum. Museum ini cukup bagus katanya, tapi karena tarifnya cukup mahal (sekitar PHP 450 untuk full package-nya) saya memutuskan untuk tidak masuk kesana, hanya foto di depan gedungnya saja.

Saya kemudian berjalan kaki ke terminal BGC Bus, letaknya berada di seberang MRT Station Ayala, untuk kemudian pergi ke kawasan Bonifacio Global City (BGC) di Taguig City. Tarif BGC Bus sangat murah, hanya PHP 13 (Rp.3500) menggunakan beep card, ada 2 rute yang bisa dituju, Bonifacio High Street dan Market Market (lokasi terminal BGC Bus di kawasan BGC berada). Saya pun memilih bus dengan rute Bonifacio High Street. Sesampainya disana, saya cukup terkagum-kagum dengan pemandangan kota di kawasan BGC tersebut. Sangat modern, rapi & teratur, berasa di belahan dunia yang lain (banyak travel vlogger yang bilang kalau kawasan BGC itu seperti di Melbourne, Australia ada juga yang bilang seperti salah satu kota di US). Disinilah lokasi orang-orang kaya dan juga foreigner/expatriate di Manila tinggal. Kalau ada yang bilang Manila itu kumuh, semrawut & kotor, berarti dia belum pernah ke kawasan BGC. Lokasi BGC juga tidak terlalu jauh dari NAIA Airport, jika kebetulan anda punya duit lebih, pengen liburan ke Manila tapi meginginkan suasana yang nyaman, tidak ada salahnya untuk stay di kawasan BGC (yang pasti tarif hotel disini mahal harganya). Kabarnya saat ini di kawasan Clark juga sedang dibangun kawasan serupa BGC (bahkan lebih besar & megah).

Di Bonifacio High Street banyak terdapat area terbuka hijau, street art & lokasi-lokasi instagramable, semuanya bisa dijelajahi dengan berjalan kaki saja sampai ke Market Market. Saya berada di BGC dari siang sampai sore (tadinya sempat kepikiran mau pergi ke SM Mall of Asia & Manila Bay, tapi saya urungkan niat saya). Setelah puas explore BGC, saya kembali ke Ayala dengan menggunakan BGC Bus, dan dilanjutkan berjalan kaki ke hostel.

Malam harinya, saya kembali explore daerah Makati, melihat-lihat kawasan Red District (tidak mampir ke klub malam disana, tidak ada budget & tidak suka clubbing juga), kemudian beristirahat di hostel.

DAY 3

Tidak banyak yang saya lakukan di hari ketiga ini, kebetulan karena kondisi badan kurang sehat, saya memutuskan untuk istirahat di hostel sampai waktunya check-out, lalu bersantai di Ayala Triangle Garden, sebelum akhirnya naik MRT dari Ayala Station ke EDSA Station. Siang itu, MRT cukup lenggang, tarifnya pun cukup murah, hanya PHP 16 (Rp.4300), sampai di EDSA Station, saya perhatikan arah sebaliknya antriannya cukup padat, baik itu antrian masuk station, maupun antrian masuk ke gerbong kereta.

Sesampainya di Pasay, saya tertarik melihat pasar tradisional yang berada di bawah jalur LRT yang memanjang dari LRT EDSA Station sampai LRT Baclaran Station, disana banyak dijual barang2 branded tapi KW, dengan harga sangat miring, murah meriah. Jika melihat kawasan ini, meskipun terkesan kumuh, kotor, semrawut, tapi suasananya sangat ramai. Disinilah Manila yang sebenar-benarnya, dan mengingat kawasan Pasay merupakan lokasi pertama yang biasa ditemui foreigner setelah menginjakkan kakinya di NAIA, tak heran jika mayoritas foreigner yang berkunjung ke Manila mengidentikkan Manila dengan kawasan seperti ini. Lama juga menyusuri pasar tersebut, tanpa sadar waktu sudah menunjukkan jam 3 sore sewaktu saya kembali ke EDSA Taft Avenue Bus Station. Setelah makan McD di depan terminal (menu nasi, spicy chicken, french fries & soft drink, seharga PHP 108 (Rp.29rb), saya lalu menuju ke airport menggunakan Airport Loop Bus.

Total biaya selama 3 hari berada di Manila, saya menghabiskan uang sebesar PHP 2600 / USD 50 / Rp.700rb (sudah termasuk oleh2 snack dehydrated mango untuk teman-teman kantor dan keluarga di rumah). Jika memperhitungkan biaya penginapan (Rp.300rb untuk 2 malam) dan tiket pesawat pp (Rp.1juta). Maka total biaya liburan kali ini hanya Rp.2juta.

Kesan terhadap Filipino : secara fisik, orang Filipino tidak jauh beda dengan orang hendak (sewaktu di pesawat jakarta-manila, saya banyak melihat ibu-ibu berhijab, dengan tampang Indonesia, saya pikir banyak barengan orang Indonesia yang sedang berlibur ke Manila, ternyata mereka Filipino & berbahasa Tagalog). Tak heran, selama di Manila, setiap kali bertemu Filipino, saya selalu diajak bicara dengan bahasa Tagalog dan mereka baru sadar kalau saya foreigner setelah saya meresponse dengan bahasa inggris. Mayoritas Filipino mahir dalam berbahasa inggris. Mereka juga lumayan welcome & helpful terhadap foreigner. Cewek-ceweknya (terutama yang keturunan Spanyol maupun yang mixed Phil-Am) cantik-cantik paras wajahnya, jadi naksir, 😉. Cukup mudah membedakan orang Filipino asli dengan Filipino keturunan, umumnya Filipino asli berkulit gelap (cokelat kehitaman) dengan wajah biasa saja (bahkan banyak juga yang bertampang garang, mirip-mirip seperti Presiden Duterte, 😅).

Sebuah pertanyaan melintas di kepalaku, Apakah saya akan kembali lagi ke Manila ? Jika masih diberikan kesempatan, saya pasti akan kembali lagi.

Pictures gallery of 3 Days In Manila (Liburan Murah, Rp.2 juta, All-in)

  • e
Advertisement
advertisement
3 Days In Manila (Liburan Murah, Rp.2 juta, All-in) | Backpacker | 4.5